Journal Asri




Baru hari Kamis, tapi pekan ini begitu meriah.

Ketika membuat tulisan ini, menjelang tengah malam. Saya baru selesai menyelesaikan pekerjaan yang saya curi start lebih awal pengerjaannya agar besok pagi tidak terlalu rusuh. Saya mau mengantar anak-anak dengan tenang ke sekolah dan daycare besok.

Sejak kemarin, Saya dan Rana sakit. Saya masuk periode awal pilek, hidung tersumbat dan sakit kepala membuat semua terasa buruk. Rana demam dan badannya meriang. Hari ini harus istirahat di rumah dan tidak pergi ke sekolah. Sementara Itu Mas Har sibuk sekali mengurus dua pasien di rumah sambil harus tetap bekerja. (Sayang sekali Mas Har rasanya). 

Progres baca Senyap yang Lebih Nyaring

Sesuai rencana akhir pekan lalu, pekan ini saya membaca buku Senyap yang Lebih Nyaring karya Eka Kurniawan, yang mana seru sekali! Ada banyak sekali rekomendasi buku yang bikin penasaran, kebanyakan karya klasik, juga karya penulis Amerika Latin, juga sesekali penulis Asia, atau Eropa yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Oh Penulis Amerika juga ada. Jujur keinginan menggebu untuk membaca (yang artinya harus membeli) sangat tinggi. Tapi sebelum memutuskan untuk membeli buku-buku tersebut, saya mau fokus menyelesaikan baca buku Eka Kurniawan ini saja dulu. Karena yang sudah-sudah, membaca karya klasik, dan karya sastra, berat sekali buat saya. Butuh perjuangan. Walaupun ada beberapa yang cocok, tapi what so called Buku Sastra ini ampun sekali buat saya. Menyelesaikannya lama betul. Tapi ikhtiar untuk membacanya setidaknya dimulai dengan membeli buku-bukunya dulu. Sastra dunia yang terakhir saya baca dan saya cukup suka adalah Amuk, karya Stefan Zweig. Buku yang gila! Isinya orang-orang penuh obsesi tidak sehat haha, tapi intense sekali membaca cerita-cerita dalam kumpulan cerpen tersebut. 

Buku June Hur baru 50 halaman saya baca. Sementara itu kumpulan puisi Mosab Abu Toha masih belum saya lanjutkan baca. Baca puisi butuh waktu yang lebih mindful dibanding baca fiksi atau kumpulan esai yang bisa saya lakukan dalam perjalanan bolak balik Bandung Jakarta. Saya belum menemukan serunya baca June Hur, tapi akan mencoba lanjut sampai 100 halaman baru memutuskan mau lanjut lagi, atau sudah saja. 

Selain membaca, saya senang pekan ini sempat menggambar lagi. Saya mencoba menggambar menggunakan oil pastel, soft pastel, menggunakan kembali pensil warna yang sempat disimpan dalam wadahnya karena saya sempat cemas melihat banyak sekali pensil yang saya miliki tapi tak pernah digunakan. 

Inspirasi gambar: Instagram @artpavo_illustration

Gambar yang saya coba buat untuk belajar, masih meniru dari gambar orang di Instagram, atau di Pinterest. Saya senang melihat proses mereka membuat gambar tersebut, biasanya dalam sebuah video singkat maupun lebih panjang di YouTube. Saya meniru gambarnya dan tekniknya. Berharap tentu semakin hari saya bisa juga menggambar tanpa lebih sering meniru. 

Gambar-gambar saya buat dengan yang tidak meniru tersimpan rapi juga di jurnal saya. Tahun ini saya menggunakan Hobonichi Techo dan Hobonichi Weeks. Keduanya masih berfungsi sebagai jurnal cerita dan catatan kerja di bulan-bulan awal. Belakangan lebih sering saya pakai untuk visual journal. Kertasnya Hobonichi juara betul! Saya suka sekali. 

Pekan ini saya juga membeli soft pastel dari Mungyo, agak bingung di awal karena ada dua versi soft pastel, tapi saya putuskan membeli versi MPA, dan terasa betul bedanya dengan soft pstel dari Lyra yang saya beli tahun lalu (dan sudah dijual kembali karena tak pernah terpakai). Soft Pastel Mungyo warnanya sangat vibrant, seperti oil pastelnya. Semoga bisa lebih banyak berkarya dengan si soft pastel ini. Amin!

Sepertinya cukup sekian cerita malam ini. Semoga akhir pekan nanti bisa melanjutkan bercerita.

Salam,

Asri



Bonus Picture

Gambar Derana di Procreate setelah dibacakan buku How to Make Friends with A Ghost karya Rebecca Green! How I love this book! Di Akhir hampir menangis membacanya, Rana juga suka ceritanya. Di awal takut, di akhir berakhir sayang sama si Hantu.







Pekan ini ingin mulai membaca atau melanjutkan baca ketiga buku ini. Mari kita lihat updatenya di akhir pekan depan ya apakah berhasil dibaca semua.

1. Senyap yang Lebih Nyaring - Eka Kurniawan

Akhir pekan ini saya mulai membaca buku ini. Kumpulan tulisan dari blog Eka Kurniawan. Isinya tentang buku! Seru deh bacanya, padahal baru sekitar 30 halaman saja tapi saya menikmati sekali. Lewat tulisan-tulisan di awal saja saya sudah dibikin penasaran membaca kisah seribu satu malam. Sesuai prediksi akan dapat banyak buku yang saya jadi penasaran ingin baca di sini. Bukunya juga mengingatkan saya pada kumpulan esai Dea Anugrah yang menuliskan judul-judul yang jadi masuk TBR. 

Gak sabar mau membaca lebih banyak seminggu kedepan. Mungkin akan lama bacanya, karena saya mau sambil catat dan coret-coret juga. Sebagai seseorang yang senang menuliskan ulasan bacaan di Blog, jelas buku ini akan jadi salah satu referensi untuk menulis ulasan yang bernas dan menyenangkan untuk dibaca. 

2. Things You May Find Hidden In My Ear - Mosab Abu Toha

 

D

“Dar means house. My grandparents left their house behind in 1948 near Yaffa beach. A tree my father told me about stood in the front yard.

Dreams of children and their parents, of listening to songs, or watching plays at Al-Mishal Cultural Center. Israel destroyed it in August 2018. I hate August. But plays are still performed in Gaza. Gaza is the stage.”

Excerpt From Things You May Find Hidden in My Ear Mosab Abu Toha

Buku ini saya pilih secara acak ketika sedang menghindari scrolling media sosial (akhir pekan bisa buka Instagram soalnya), lalu saya buka aplikasi baca dan menemukan buku ini. Ternyata buku ini pernah saya unduh secara gratis ketika akhir 2023 lalu Israel menyerang Gaza. Beberapa penerbit memberikan daftar buku yang dapat diunduh gratis, salah satunya buku ini. Saya baru membaca sekitar sepertiga isi buku puisi ini namun sesak sekali membacanya. 

Puisi pertama langsung jadi favorit. Judulnya Palestine A-Z, berisi prosa yang kata kuncinya dikembangkan berdasarkan abjad. Contohnya Abjad D diatas. Berkisah tentang Dar (rumah). 

Semoga bisa diselesaikan juga seminggu kedepan, karena saya juga biasanya lambat urusan membaca puisi. 


3. A Crane Amone Wolves - June Hur

Buku yang ini jadi pelengkap supaya tetap ada fiksi yang saya baca di pekan ini. Buku yang sempat saya dengar di sebuah klub buku. Tanggapan rekan-rekan saya positif sekali. Saya jadi penasaran. 

Kebetulan bukunya baru datang kemarin. Mau saya baca sebelum masuk ke perpus dan bisa dibaca orang lain juga. 







Satu nonfiksi, satu buku puisi dan satu Fiksi terjemahan. Semoga ketiganya menjadi bacaan yang menyenangkan.

 

Pekan kedua tanpa sosial media yang terlalu ramai. Hanya Instagram yang sesekali dibuka untuk keperluan bisnis, login akun pribadi hanya di hari libur. Kepala rasanya lebih tenang, tidak terlalu banyak informasi yang bertebaran. Memang betul kata sebuah kutipan dari Youtube yang saya tonton waktu mau mengurangi waktu depan layar. News can wait. Dulu saya seringkali takut ketinggalan berita-berita penting kalau tidak buka sosial media. Padahal berita tersebut juga hampir tidak ada yang ngaruh langsung ke saya, tapi bikin pusingnya ada banget. Tidak mengakses X, Threads, TikTok, Instagram yang jarang banget dipakai buat consuming content, rasanya Ya Ampun, kaya space yang biasanya berisik itu sekarang tenang sekali. 

Tapi prosesnya memang gak mudah, karena sudah jadi kebiasaan. Saya juga menyadari kalau kebiasaan scrolling gak semudah itu bisa dilepas. Makanya disubstitusi. Saya tetap pegang HP kalau sedang idle atau lagi bosan, tapi bukanya Kindle, Playbook atau Books. Aplikasi buat baca buku. Pengganti scrolling. Saya gak baca di eReader karena ribet (ujung-ujungnya nanti craving buat scrolling lagi), jadi langsung di HP. Alasan lainnya gak di eReader juga karena eReader saya jatuh ke kolong kasur sejak beberapa waktu lalu dan belum saya ambil sampai sekarang LOL. 

Karena punya waktu banyak buat baca, saya menamatkan beberapa buku dalam dua minggu ini. Senang sih! Terutama karena buku-buku ini TBR yang saya memang punya bukunya, tapi belum sempat baca karena hal lain. Terus selain baca saya juga jadi rajin gambar-gambar lagi. Kalau gambar biasanya malam, habis anak-anak tidur. Saya mulai mainan soft pastels, tools yang belum pernah benar-benar saya coba. Saya beli Derwent Pastels isi 72, tapi gak yakin kapan pernah benar-benar dipakai, kayanya sekali waktu beli terus nyerah karena susah dan hasilnya jelek. Padahal setelah dipikir-pikir lagi, kayanya karena kertasnya aja salah dan waktu itu coba gambar realis, yang mana pakai cat air (media yang saya PD pakenya) aja saya jelek banget gambarnya. Jadinya sekarang buat gambar-gambar landscape aja. 



Saya juga mulai gambar di iPad kalau bosan. Akhirnya beli procreate berasa manfaatnya ya :') dulu tuh 2022 saya beli iPad Mini niatnya buat gambar-gambar. 2026, empat tahun setelahnya, kehitung jari banget berapa gambar yang tercipta dari sana, dibandingkan misalnya empat tahun saya dan wacom intuos yang kalau pakai ribet banget harus nyalain laptop dulu. Memang ga selalu tools yang bagus bikin kita rajin berkarya. 

Akhir pekan ini rencananya mau ganti baca buku baru. 1 Fiksi dan 1 Nonfiksi. Buat Fiksi mau lanjut menyelesaikan The Secret of Secrets karya Dan Brown, kayanya saya sudah baca sekitar 70% bukunya, sedikit lagi selesai semoga bisa segera selesai dengan cepat juga amin. Buat buku nonfiksi, saya baru saja berli Senyap yang Lebih Nyaring, tulisan non-fiksi Eka Kurniawan dari blog-nya, dan kebanyakan adalah ulasan buku! Semangat banget saya bacanya. Baru baca pengantar dan salah satu tulisannya saja sudah merasa akan cocok dengan bukunya. Semoga ya semoga. 


Sudah lama sekali saya gak baca karya Tere Liye. Dulu periode 2010-2014 waktu saya masih kuliah, saya lumayan sering baca buku Tere Liye, dan menikmati beberapa bukunya. 2017-2019 juga beberapa kali membaca lagi beberapa karyanya dan ada beberapa yang melekat sekali di saya. Tentang Kamu (Ini yang paling saya suka dari semua buku Tere Liye), Sunset bersama Rosie, Hujan, Pulang. Sisanya beberapa buku gak terlalu membekas. Tapi satu kesamaan dari buku-buku Tere Liye: page turner sekali. 

Belakangan nama Tere Liye mulai ramai di Medsos bukan karena karyanya yang dulu saya nikmati banget, tapi justru karena isu ghost writer dan beberapa problem personal karena yang bersangkutan lumayan aktif di medsos/Facebook. Saya gak terlalu mengikuti, tapi yang jelas di X lumayan banyak hatersnya (hehe), saya gak ngefans banget, tapi juga gak bisa dibilang haters wong beberapa bukunya saya nikmati buat dibaca. 

Kenapa beberapa waktu terakhir gak baca bukunya, ya simple: ketemu banyak buku lain yang menurut saya lebih menarik dan lebih ingin saya baca. Semakin bertambahnya usia, beban-beban kehidupan lain, kerja, ngurus anak dan rumah, bikin saya lebih selektif pilih bacaan karena waktunya gak banyak. 

Awal ketertarikan pada Buku ini

Lalu beberapa waktu lalu ketemu postingan Ko Ernest Prakasa tentang buku ini. Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Saya penasaran banget karena sepertinya topiknya menarik. Tentang penegakan hukum di sebuah tempat yang petingginya ngawur semua. (Iya kita semua tahu kok ini dimana!). 

Jadilah saya membeli buku ini, sekalian untuk koleksi di Imakata juga karena banyak yang cari buku Tere Liye di Imakata, dan saya termasuk orang yang percaya walaupun buku Tere Liye mungkin gak cocok buat semua orang (terutama yang sudah banyak ketemu penulis dan beragam genre lain), buku Tere Liye tuh bagus banget buat pembaca pemula yang baru mulai mau baca buku. Karena page turner, bikin penasaran. 

Membaca Teruslah Bodoh, Jangan Pintar

Saya baca buku ini dalam waktu satu hari saja. Bukunya tidak terlalu tebal 371 halaman saja. Berkisah tentang sidang tertutup yang akan menentukan keberlanjutan konsesi tambang sebuah perusahaan raksasa. Sidang antara kelompok aktivis lingkungan melawan pengacara perusahaan tersebut. Ditengahi oleh sebuah komite independen yang dipilih pemerintah melalui masukan dari masyarakat. Topik yang diangkat memang menarik sekali: politik, hukum dan lingkungan. Kita akan melihat cerita ini dari PoV aktivis lingkungan yang menyiapkan dan memperjuangkan agar konsesi tidak dilanjutkan. Sekilas kita juga akan melihat dari PoV oligarki, pemerintah dan juga pengacara tergugat (yang nama tokohnya dibikin mirip sekali dengan pengacara kondang yang dikenal semua orang Indonesia). 

Ada beberapa saksi dari masing-masing pihak yang diundang. Lewat kacamata para saksi, kita akan melihat kerusakan yang terjadi akibat penambangan yang tidak bertanggung jawab. Mulai dari anak yang mati di lubang bekas galian tambang, keluarga di sebuah pulau yang merasakan dampak bertahun-tahun hidup berdampingan dengan perusakan lingkungan, anak-anak yang mati dan cacat karena dampak pengolahan lingkungan yang amburadul, belum lagi akses air yang hilang, ikan-ikan yang tak lagi kunjung didapat nelayan, hingga penggusuran paksa dengan beragam cara yang diluar nalar. 

Tahu tidak yang bikin saya gak nyaman bacanya? Semua kasus di buku tersebut, terlalu dekat rasanya dengan kita. Kisah-kisah di buku tersebut adalah kisah yang sehari-hari kita baca beritanya, dengarkan di podcast (Pendengar Bocol Alus here). Jadi emosi banget karena sudah tahu anyway endingnya bakal kaya gimana. 

Disclaimer dulu Review ini dibikin agak cepat segera setelah saya baca, bisa jadi ada detail yang luput dan saya gak mencatat juga pengalaman membaca seperti yang biasanya saya buat kalau mau bikin ulasan agak niat. Tapi yang pasti buku ini bukan buku Tere Liye terbaik yang saya baca (masih belum ada yang berhasil menggeser Tentang Kamu sih! Bu Sri juara!). 

Bagian yang bikin gereget

Nah yang juga bikin gereget gak tahan adalah bagaimana tokoh-tokoh aktivis di buku ini dibikin kaya gak pandai berstrategi gitu, lalu ada sosok penulis (yang ku duga adalah Tere Liye menggambarkan dirinya sendiri?) dimana dia hadir menjadi pahlawan, bikin strategi di sidang yang menghadirkan kakak beradik Budi dan Rudi (kasus mereka adalah penggusuran lahan warga untuk pembangungan project strategis, tapi dengan cara-cara kotor ketika diskusi gak berjalan sesuai rencana). Si Penulis ceritanya membuat strategi dimana aktivis yang mewakili pihak penggugat meminta Rudi (sakti tergugat), cerita duluan alih-alih Budi (saksi penggugat), yang nantinya membuat keadaan berbalik dan strategi itu berhasil! secara storytelling ini bikin kita yang baca makin bersemangat karena wah, ada harapan nih buat at least bikin kebenaran terungkap. Tapi yaaa, strategi jitunya cuma dipakai SEKALI ITU AJA! Kecewa banget di persidangan berikutnya gak ada muncul strategi dari sang penulis. Kaya, kok gak konsisten pinternya gitu haha. 

Sosok aktivis yang dihadirkan di sini, alih-alih berstrategi dengan jitu, dihadirkan untuk menjadi jawaban dari mana saksi-saksi ini berdatangan. Bu Sri, mantan wartawan senior yang disiram air keras adalah penghubung ke kasus pertama, cerita Ahmad. Dandi adalah pembuka jalan datangnya Bu Siti yang menor dan kehilangan bayinya. Budi dan Rudi hadir lewat riset cerita sang penulis, saksi pamungkas yang rencananya dihadirkan di akhir sidang, hadir melalui pertalian cerita hidup dengan pemilik warung, aktivis yang diceritakan paling sangar lewat bekas lukanya, dan paling kesal kalau ada yang datang untuk mengeluh. 

Malah gak muncul strategi yang akan dilakukan aktivis-aktivis ini tuh gimana, kesannya kalau sekali baca kaya saya ini, ya mendatangkan saksi saja tapi gak dipersiapkan dengan baik di pengadilan bagaimana. Mungkin PoV yang ingin ditunjukkan penulis adalah PoV kalau dari awal sampai akhir ya memang kita gak akan menang melawan oligarki. 

--

Agak panjang ya ceritanya punten! haha, tapi menurut saya ini tetap bacaan yang fun, karena beneran page turner dan pacenya cepat, bikin kita bacanya gak bosan walaupun kesel juga dibikin baca cerita oligarki dalam bentuk novel ini! 

Setelah baca buku ini, saya mau coba baca Tanah Para Bandit, yang katanya juga lumayan bagus. Dulu tuh saya baca Pulang dan cukup suka sama cerita Thomas. Mari kita lihat yaa nanti gimana cerita Tanah Para Bandit ini. 


Salam, 

Asri

Sekarang ini pukul 00.18. Sudah sangat malam. Tapi gak tahan mau menuliskan apa yang ada di kepala. Beberapa waktu terakhir saya membaca dua buku yang keduanya bikin saya kangen ngeblog dengan lebih effortless.

Beberapa tahun terakhir, karena saya sering nulis review buku di Blog, bikin satu postingan aja beneran mikir dulu panjang. Seringnya gak pula dipos, jadi onggokan draft saja. Padahal dulu satu Paragraf saja tidak masalah buat diposting. Namanya juga blog pribadi jadi harusnya bebas aja. 

Tapi makin kesini makin berhati-hati buat bikin postingan di Blog.

Oiya. Dua buku yang saya baca adalah Teka Teki Gambar Aneh dan Supernova Petir. 

Di Teka-teki Gambar Aneh, diceritakan ada seorang laki-laki yang rutin posting di blog buat bikin memories bareng keluarganya. Tentu saja ini latarnya sebelum tahun-tahun sosial media semakin marak ya. Jujur cerita gambar yang diupload itu agak creepy, namanya juga buku misteri. Tapi poinnya adalah kangen suasana ngeblog tuh jadi sesuatu hal yang gak seharusnya effort banget disiapkan. 

Buku kedua Supernova Elektra berkisah tentang kehidupan Etra dan Mpret, dua mahluk aneh yang bekerja sama bikin warnet di Bandung medio 2000an. Gak ada cerita orang ngeblog sih. Malah bisa dibilang yang related ke blog adanya di buku Supernova terakhir (walaupun Supernova juga gak bisa dibilang blog). Tapi seru kayanya ya kalau throwback update isi kepala di blog lagi. Bukan InstaStory atau di Status WhatsApp (hehe yang ini saya gak pernah juga sih). 

Gara-gara baca dua buku itu, saya jadi ingin balik rutin ngeblog. Satu buku tambahan lainnya: buku Jonathan Haidth yang judulnya Anxious Generation. Ini baru satu bab aja selesainya. Tapi aku mau jadi contoh buat anak-anak ku. Contoh yang bagaimana: yang tidak jadi budak smartphone. Gak addictive yang sampai anxious kalau gak bawa HP dan selalu ingin melakukan sesuatu instead of bengong. 

Detox Medsos

Terus pekan ini saya sedang memulai detox sosial media. Saya hapus aplikasi medsos di HP saya. X, Threads, TikTok, deactive akun Instagram pribadi dan mengaktifkan hanya Instagram buat keperluan bisnis. Akun buku masih ada tapi saya login di iPad, rencananya sih biar kalau mau buka effort gitu hehe, jadi gak sering buka. KARENA ga buka medsos, jadi hilang media buat nulis panjaaang.

Rencananya perjalanan detox ini juga mau saya share deh di blog. Karena jujur susah banget buat menggantikan dopamine dari medsos dan kebiasaan scrolling. 

Jadi kayanya saya mau mulai coba lagi posting rutin walaupun isinya lebih mirip jurnal ceker ayam atau benang kusut isi kepala. 

Mari kita coba yaaa. 

Xoxo,

Asri

PS: gara-gara ini jadi tahu kalau di Blogger bahkan gak punya aplikasi di Appstore. LOL. 


Postingan Lama Beranda

POPULAR POSTS

  • Review Asri: As Long As The Lemon Trees Grow karya Zoulfa Katouh
  • Review Buku Angsa dan Kelelawar karya Keigo Higashino
  • Review Asri - Tragedi Pedang Keadilan karya Keigo Higashino
  • [Review Asri] Atomic Habits - James Clear
  • Review Asri: Pengantin-pengantin Loki Tua karya Yusi Avianto Pareanom
  • Main ke Toko Buku Pelagia (@tb.pelagia) Bandung
  • Membaca Bakat Menggonggong dan Mengintip Proses Menulis Dea Anugrah
  • Review Asri: Teruslah Bodoh Jangan Pintar - Tere Liye
  • Edisi Curhat : "Pergilah dari daerahmu, maka kau akan tau betapa luas dunia"
  • Review Asri - Holy Mother karya Akiyoshi Rikako

Arsip Blog

  • ▼  2026 (8)
    • ▼  April 2026 (3)
      • Sebuah Pekan yang Meriah (Padahal baru Kamis)
      • Bacaan Akhir Pekan dan Rencana Baca Pekan Depan
      • Pekan Kedua Mengurangi Waktu di Media Sosial
    • ►  Maret 2026 (3)
    • ►  Februari 2026 (2)
  • ►  2025 (25)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  Juli 2025 (2)
    • ►  Juni 2025 (4)
    • ►  Mei 2025 (5)
    • ►  April 2025 (2)
    • ►  Maret 2025 (2)
    • ►  Februari 2025 (3)
    • ►  Januari 2025 (6)
  • ►  2024 (8)
    • ►  November 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (1)
    • ►  Juni 2024 (1)
    • ►  Mei 2024 (2)
    • ►  April 2024 (3)
  • ►  2023 (17)
    • ►  November 2023 (1)
    • ►  September 2023 (1)
    • ►  Juli 2023 (4)
    • ►  Juni 2023 (4)
    • ►  Maret 2023 (2)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (3)
  • ►  2022 (52)
    • ►  Oktober 2022 (2)
    • ►  September 2022 (12)
    • ►  Agustus 2022 (2)
    • ►  Juli 2022 (2)
    • ►  Juni 2022 (4)
    • ►  Mei 2022 (9)
    • ►  April 2022 (7)
    • ►  Maret 2022 (5)
    • ►  Februari 2022 (6)
    • ►  Januari 2022 (3)
  • ►  2021 (35)
    • ►  Desember 2021 (5)
    • ►  November 2021 (1)
    • ►  Oktober 2021 (1)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  Agustus 2021 (3)
    • ►  Juli 2021 (2)
    • ►  Juni 2021 (1)
    • ►  Mei 2021 (3)
    • ►  April 2021 (1)
    • ►  Maret 2021 (2)
    • ►  Februari 2021 (6)
    • ►  Januari 2021 (6)
  • ►  2020 (13)
    • ►  Desember 2020 (3)
    • ►  Agustus 2020 (4)
    • ►  Juni 2020 (3)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
    • ►  Februari 2020 (1)
  • ►  2019 (14)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  Agustus 2019 (2)
    • ►  Juli 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (3)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (2)
  • ►  2018 (15)
    • ►  Desember 2018 (4)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Juli 2018 (1)
    • ►  Juni 2018 (1)
    • ►  Mei 2018 (3)
    • ►  Maret 2018 (3)
    • ►  Januari 2018 (2)
  • ►  2017 (20)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  Agustus 2017 (4)
    • ►  Juli 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (3)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (65)
    • ►  Desember 2016 (2)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (3)
    • ►  Juli 2016 (17)
    • ►  Juni 2016 (7)
    • ►  Mei 2016 (7)
    • ►  April 2016 (25)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (29)
    • ►  Desember 2015 (3)
    • ►  September 2015 (2)
    • ►  Agustus 2015 (13)
    • ►  Juli 2015 (4)
    • ►  Juni 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (2)
    • ►  Februari 2015 (1)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (29)
    • ►  Desember 2014 (8)
    • ►  November 2014 (6)
    • ►  Oktober 2014 (2)
    • ►  September 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (3)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Februari 2014 (6)
  • ►  2013 (66)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  Oktober 2013 (7)
    • ►  September 2013 (7)
    • ►  Agustus 2013 (15)
    • ►  Juli 2013 (4)
    • ►  Juni 2013 (8)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (5)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (9)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (4)
    • ►  Oktober 2012 (2)
  • ►  2011 (8)
    • ►  Oktober 2011 (4)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  Maret 2011 (3)

Goodreads

Asri's books

Kejutan Kungkang
it was amazing
Kejutan Kungkang
by Andina Subarja
The Fine Print
liked it
The Fine Print
by Lauren Asher
Under One Roof
liked it
Under One Roof
by Ali Hazelwood
Lessons from Surah Yusuf
it was amazing
Lessons from Surah Yusuf
by Abu Ammaar Yasir Qadhi
Setelah membaca ini sampai selesai malam ini. Jadi paham kenapa Allah bilang kalau Kisah Yusuf ini salah satu kisah terbaik dalam Quran. Ada terlalu banyak pelajaran berharga dari kisah Yusuf. Dr. Yasir Qadhi mengawali buku ini dg sebab...
No Exit
liked it
No Exit
by Taylor Adams

goodreads.com

Cari Blog Ini

Kamu pengunjung ke

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Journal Asri. Designed by OddThemes