Sudah lama sekali saya gak baca karya Tere Liye. Dulu periode 2010-2014 waktu saya masih kuliah, saya lumayan sering baca buku Tere Liye, dan menikmati beberapa bukunya. 2017-2019 juga beberapa kali membaca lagi beberapa karyanya dan ada beberapa yang melekat sekali di saya. Tentang Kamu (Ini yang paling saya suka dari semua buku Tere Liye), Sunset bersama Rosie, Hujan, Pulang. Sisanya beberapa buku gak terlalu membekas. Tapi satu kesamaan dari buku-buku Tere Liye: page turner sekali.
Belakangan nama Tere Liye mulai ramai di Medsos bukan karena karyanya yang dulu saya nikmati banget, tapi justru karena isu ghost writer dan beberapa problem personal karena yang bersangkutan lumayan aktif di medsos/Facebook. Saya gak terlalu mengikuti, tapi yang jelas di X lumayan banyak hatersnya (hehe), saya gak ngefans banget, tapi juga gak bisa dibilang haters wong beberapa bukunya saya nikmati buat dibaca.
Kenapa beberapa waktu terakhir gak baca bukunya, ya simple: ketemu banyak buku lain yang menurut saya lebih menarik dan lebih ingin saya baca. Semakin bertambahnya usia, beban-beban kehidupan lain, kerja, ngurus anak dan rumah, bikin saya lebih selektif pilih bacaan karena waktunya gak banyak.
Awal ketertarikan pada Buku ini
Lalu beberapa waktu lalu ketemu postingan Ko Ernest Prakasa tentang buku ini. Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Saya penasaran banget karena sepertinya topiknya menarik. Tentang penegakan hukum di sebuah tempat yang petingginya ngawur semua. (Iya kita semua tahu kok ini dimana!).
Jadilah saya membeli buku ini, sekalian untuk koleksi di Imakata juga karena banyak yang cari buku Tere Liye di Imakata, dan saya termasuk orang yang percaya walaupun buku Tere Liye mungkin gak cocok buat semua orang (terutama yang sudah banyak ketemu penulis dan beragam genre lain), buku Tere Liye tuh bagus banget buat pembaca pemula yang baru mulai mau baca buku. Karena page turner, bikin penasaran.
Membaca Teruslah Bodoh, Jangan Pintar
Saya baca buku ini dalam waktu satu hari saja. Bukunya tidak terlalu tebal 371 halaman saja. Berkisah tentang sidang tertutup yang akan menentukan keberlanjutan konsesi tambang sebuah perusahaan raksasa. Sidang antara kelompok aktivis lingkungan melawan pengacara perusahaan tersebut. Ditengahi oleh sebuah komite independen yang dipilih pemerintah melalui masukan dari masyarakat. Topik yang diangkat memang menarik sekali: politik, hukum dan lingkungan. Kita akan melihat cerita ini dari PoV aktivis lingkungan yang menyiapkan dan memperjuangkan agar konsesi tidak dilanjutkan. Sekilas kita juga akan melihat dari PoV oligarki, pemerintah dan juga pengacara tergugat (yang nama tokohnya dibikin mirip sekali dengan pengacara kondang yang dikenal semua orang Indonesia).
Ada beberapa saksi dari masing-masing pihak yang diundang. Lewat kacamata para saksi, kita akan melihat kerusakan yang terjadi akibat penambangan yang tidak bertanggung jawab. Mulai dari anak yang mati di lubang bekas galian tambang, keluarga di sebuah pulau yang merasakan dampak bertahun-tahun hidup berdampingan dengan perusakan lingkungan, anak-anak yang mati dan cacat karena dampak pengolahan lingkungan yang amburadul, belum lagi akses air yang hilang, ikan-ikan yang tak lagi kunjung didapat nelayan, hingga penggusuran paksa dengan beragam cara yang diluar nalar.
Tahu tidak yang bikin saya gak nyaman bacanya? Semua kasus di buku tersebut, terlalu dekat rasanya dengan kita. Kisah-kisah di buku tersebut adalah kisah yang sehari-hari kita baca beritanya, dengarkan di podcast (Pendengar Bocol Alus here). Jadi emosi banget karena sudah tahu anyway endingnya bakal kaya gimana.
Disclaimer dulu Review ini dibikin agak cepat segera setelah saya baca, bisa jadi ada detail yang luput dan saya gak mencatat juga pengalaman membaca seperti yang biasanya saya buat kalau mau bikin ulasan agak niat. Tapi yang pasti buku ini bukan buku Tere Liye terbaik yang saya baca (masih belum ada yang berhasil menggeser Tentang Kamu sih! Bu Sri juara!).
Bagian yang bikin gereget
Nah yang juga bikin gereget gak tahan adalah bagaimana tokoh-tokoh aktivis di buku ini dibikin kaya gak pandai berstrategi gitu, lalu ada sosok penulis (yang ku duga adalah Tere Liye menggambarkan dirinya sendiri?) dimana dia hadir menjadi pahlawan, bikin strategi di sidang yang menghadirkan kakak beradik Budi dan Rudi (kasus mereka adalah penggusuran lahan warga untuk pembangungan project strategis, tapi dengan cara-cara kotor ketika diskusi gak berjalan sesuai rencana). Si Penulis ceritanya membuat strategi dimana aktivis yang mewakili pihak penggugat meminta Rudi (sakti tergugat), cerita duluan alih-alih Budi (saksi penggugat), yang nantinya membuat keadaan berbalik dan strategi itu berhasil! secara storytelling ini bikin kita yang baca makin bersemangat karena wah, ada harapan nih buat at least bikin kebenaran terungkap. Tapi yaaa, strategi jitunya cuma dipakai SEKALI ITU AJA! Kecewa banget di persidangan berikutnya gak ada muncul strategi dari sang penulis. Kaya, kok gak konsisten pinternya gitu haha.
Sosok aktivis yang dihadirkan di sini, alih-alih berstrategi dengan jitu, dihadirkan untuk menjadi jawaban dari mana saksi-saksi ini berdatangan. Bu Sri, mantan wartawan senior yang disiram air keras adalah penghubung ke kasus pertama, cerita Ahmad. Dandi adalah pembuka jalan datangnya Bu Siti yang menor dan kehilangan bayinya. Budi dan Rudi hadir lewat riset cerita sang penulis, saksi pamungkas yang rencananya dihadirkan di akhir sidang, hadir melalui pertalian cerita hidup dengan pemilik warung, aktivis yang diceritakan paling sangar lewat bekas lukanya, dan paling kesal kalau ada yang datang untuk mengeluh.
Malah gak muncul strategi yang akan dilakukan aktivis-aktivis ini tuh gimana, kesannya kalau sekali baca kaya saya ini, ya mendatangkan saksi saja tapi gak dipersiapkan dengan baik di pengadilan bagaimana. Mungkin PoV yang ingin ditunjukkan penulis adalah PoV kalau dari awal sampai akhir ya memang kita gak akan menang melawan oligarki.
--
Agak panjang ya ceritanya punten! haha, tapi menurut saya ini tetap bacaan yang fun, karena beneran page turner dan pacenya cepat, bikin kita bacanya gak bosan walaupun kesel juga dibikin baca cerita oligarki dalam bentuk novel ini!
Setelah baca buku ini, saya mau coba baca Tanah Para Bandit, yang katanya juga lumayan bagus. Dulu tuh saya baca Pulang dan cukup suka sama cerita Thomas. Mari kita lihat yaa nanti gimana cerita Tanah Para Bandit ini.
Salam,
Asri




















