Help! Aku kecanduan baca Supernova haha! Setidaknya untuk dua buku Partikel dan Gelombang! yang masing-masing bisa kulahap dalam waktu tidak lebih dari 2 hari saja.
Buat yang belum tahu, Supernova ini series karya Dee Lestari. Total ada 6 buku. Buku pertamanya Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh terbit tahun 2001 alias 25 tahun yang lalu! Dan seri ini tuh dulu kayanya hype banget tapi gak tahu kenapa saya gak terpapar blas. Tau aja karena bukunya seliweran di perpus. Tapi belum tergerak untuk baca.
Bulan Januari lalu saya dikirimkan dua buku Dee Lestari seri Supernova yang Republish, covernya baru dan dilengkapi dengan ilustrasi yang cantik sekali dalamnya. Ada dua buku yang saya terima: Partikel dan Gelombang, yang mana adalah buku ke-4 dan ke-5 dari seri supernova. Seri pertamanya ada di Perpustakaan Imakata. Tapi jujur agak maju mundur mau baca. Jadinya saya coba-coba saja baca Pertikel. Eh malah keterusan sampai bukunya beres gak sampai 24 jam! Ternyata memang gak perlu baca dari buku pertama buat baca buku-buku ini, walaupun katanya kalau buat buku terakhir (Intelegensi Embun Pagi) tetap direkomendasikan untuk baca dulu buku pertamanya.
Setelah membaca buku Partikel, aku memutuskan mencoba baca Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (KPBJ) dulu. Tapi ternyata butuh waktu yang lama banget buatku membaca KPBJ. 2 Minggu! haha. Lumayan bersyukur bacanya Partikel duluan karena kalau KPBJ duluan kok aku merasa malah belum tentu lanjut baca buku-buku lainnya.
Kenapa susah dan lama banget baca buku pertama kayanya karena dipengaruhi alurnya yang pindah-pindah, teori-teori sainsnya juga kebanyakan sampai akhirnya aku bingung sendiri (sorry not sorry), terus yang paling menyebalkan adalah tema perselingkuhan antara Re dan Rana yang aduuuh gak sukaaa. Jadinya sebel sendiri bacanya. Tapi tetap bersyukur baca bukunya karena bertemu sosok Gio dan Diva, yang jadi plot penting di buku ke-5 yang mau saya baca: Gelombang.
Gelombang diawali dengan hilangnya Diva si Bintang Jatuh dan pencarian tak berkesdahan Gio dan tim SAR setempat. Kalau tidak baca dulu buku 1 saya mungkin bingung mereka siapa. Sekarang saya penasaran baca Akar dan Petir. Tapi keduanya masih saya simpan dulu di keranjang lokapasar karena bulan ini saya sudah beli banyak sekali buku. Nanti deh menunggu gajian haha sekalian beli IEP juga supaya tuntas baca seriesnya. Sungguh perlu delayed gratification xixi supaya buku-buku yang sudah dibeli dibaca dulu satu per satu.
Reviu bukunya masing-masing mau dibuat terpisah. Nanti ku akan edit lagi postingan ini supaya bisa menautkan tautan ke masing-masing reviunya!
Kumpulan cerpen kedua yang saya selesaikan di Juni setelah Bakat Menggonggong.
Saya baca kumpulan cerpen ini karena dua alasan: Pertama sudah punya bukunya di rumah, buku ini masuk ke rombongan buku yang dengan kalap saya beli di Juni, setelah puasa jajan buku lumayan lama. Kedua, pekan lalu saya harus mengurus sesuatu di bank, tahu sendiri kan urusan di bank kadang antrinya lama dan saya menghindari main HP buat doom scrolling di Bank, jadinya saya bawa buku paling tipis dengan harapan bisa langsung selesai baca. Kenyataannya gak langsung selesai juga sih, hehe. Tapi ya tetap cepat selesai dibaca karena buat saya yang sering kesulitan membaca cerpen, buku ini menarik, punya ciri khas cerpen yang pendek tapi membekas, tapi menariknya punya keterhubungan antar beberapa ceritanya.
Bukunya tipis sekali, hanya 82 halaman. Total ada 8 cerita (tidak termasuk prolog dan epilog). Seperti yang saya bilang tadi, beberapa cerita pendek yang saling berhubungan. Dua cerita yang membekas buat saya: Gembelengan dan Nay. Meskipun bahasanya ringan tapi gak tema yang diangkat sebetulnya sama sekali tidak ringan.
Cerita-cerita disini beberapa diambil pakai PoV anak-anak, ada juga yang dewasa. Jumlahnya seimbang masing-masing 4 cerita. PoV anak-anaknya lumayan seru, macam cerita petualangan. Cerita dengan sudut pandang anak ada Pengutil, Non Fiksi, Nay dan Planetarium. Sisanya ditulis dengan sudut pandang orang dewasa.
Saya suka cara penulis mencoba menghubungkan beberapa cerita pendek menjadi saling berkaitan dalam satu buku tipis ini. Secara keseluruhan ceritanya menarik. Menarik buat dibaca sekali dua kali duduk bisa langsung selesai.
Minusnya satu: Sudut pandang anak di buku ini ada beberapa yang rasanya gak natural.
Di Cerpen berjudul Planetarium misalnya. Kalimat “Aku juga bakal suka baca buku selain buku pelajaran kalau punya buku kaya gitu, Ndra. Sayangnya di rumah cuma ada koran lampu merah” terasa agak aneh keluar dari mulut anak SD kelas besar sekalipun. Ucapannya terlalu dewasa, terutama karena ada kesadaran soal jenis bacaan dan kondisi rumah yang biasanya belum terlalu dipikirkan anak-anak seusia itu.
Kalau dilihat dari teori perkembangan, anak usia segitu masih lebih fokus pada hal-hal yang langsung mereka alami, bukan menyimpulkan hal-hal abstrak seperti kritik terhadap akses literasi. Karena itu, ucapan Har terasa lebih seperti suara orang dewasa yang sedang berbicara lewat karakter anak, bukan suara anak itu sendiri. Seperti ingin menyampaikan pesan sosial, tapi sayangnya jadi kurang masuk di bagian PoV anak ini.
Bukan tanpa alasan saya merasa hal tersebut janggal. Sebabnya tentu saja karena saya juga pernah menjadi Har kecil. Waktu saya kecil dulu, buku bacaan jadi sesuatu yang asing buat saya. Bagi keluarga kami, buku adalah barang mewah yang rasanya tak mungkin dimiliki kecuali ada yang memberi, atau beli di toko loak depan wihara dekat pasar. Itupun majalah bobo bekas, bukan buku bacaan nonteks lain yang lebih tebal dan berisi.
Apakah saya ingin punya banyak buku dan menjadi seperti Nay? Oh tentu.
Apakah saya akan berbicara seperti Har? Sepertinya tidak.
Karena saya tidak bisa membandingkan seperti Har. Respon saya sebagai anak kecil di kampung ya hanya bisa bilang "wah keren ya" tapi lalu lanjut bermain. Tanpa bukupun saya masih bisa main seru (ini cara penghiburan paling mudah kala itu, ketimbang minta belikan buku ke Ibu). Siapa yang bisa membandingkan? Saya yang sudah dewasa, yang sudah paham kalau pengalaman masa kecil anak-anak beda-beda.
Kalau pengalaman saya sendiri dianggap terlalu bias, beberapa tahun ke belakang saya punya pengalaman mengajar anak-anak baik di SD Negeri maupun SD Swasta. Kondisi ekonominya berbeda, tapi percayalah, anak-anak SD itu lebih 'bodo amat' dan cuek dengan kondisi yang mereka tidak bisa capai. Mereka tentu kenal juga rasa iri, tapi ini akan mereka alihkan dengan hal yang mereka punya. Lihat teman punya banyak buku? yang iri dan merasa lebih hebat akan pamer mainannya yang juga banyak. Sebagian akan bodo amat, sebagian lagi akan memuji atau mungkin mencoba meminjam buku-bukunya.
Hal serupa juga saya temukan di cerpen Nay yang di salah satu cerita dalam ceritanya, ada tokoh Ris, yang digambarkan sebagai anak yang sedang ‘bertualang’ dengan Ben dan Jep mengintip rumah Bik Meriam. Namun alih-alih petualangan seru, keluar dari pengintaian, Ris justru keluar dengan bersikap lebih dewasa dari anak seusianya, yg karena melihat sesuatu yang tak boleh ia lihat, malah keluar mengajak semua pergi, dan meminta Ben untuk tidak terlalu mempercayai apa yang dikatakan ayahnya.
Sayang banget, padahal selain poin anak-anak yang terlalu dewasa cara bicara dan berpikirnya ini, sisanya saya suka. Kan anak-anak di kampung yang hidup dalam kemiskinan juga tetap anak-anak hehe gak ujug ujug semua jadi 10 tahun lebih tua usia mentalnya.
Saya gak terlalu paham apakah catatan saya jadi valid atau gak kalau bukunya tidak diberikan label anak, seperti buku Na Willa misalnya, tapi saya rasa ketika ada sudut pandang anak yang dimasukkan dalam cerita, maka penulis perlu menjadi anak tersebut agar ceritanya semakin natural.
Tapi terlepas dari catatan saya tentang sudut pandang anak, bukunya tetap layak buat dibaca! coba baca yak kalau punya bukunya atau nemu bukunya. Siapa tahu pengalaman membaca kamu berbeda dengan saya.
Informasi buku:
Judul: Parasit dan Cerita-Cerita Lain dari Kampung Bantaran Kenangan
Penulis: Aris Rahman P. Putra, 2024
Editor: Felix K. Nesi
Cetakan pertama, Agustus 2024
vi + 83 halaman, 12 x 19 cm
ISBN: 978-602-0788-59-3
Penerbit: Marjin Kiri
Di Kampung Merdeka, tak ada satu orang pun yang suka mengajukan diri menjadi Ketua RT. Menjadi ketua kampung tak semudah dan seindah yang dibayangkan. Amanah yang diemban pun tidak ringan. Ketua kampung harus rela berkorban waktu, uang, dan tenaga. Dan itu b-e-r-a-t. Tidak semua orang sanggut. Kecuali orang yang haus jabatan, sejujurnya tak ada yang mau dipilih.
Apa hebatnya jadi ketua RT? itu bukan jabatan yang bergengsi. herannya, Bu As menginginkannya dan menikamtinya. Menjadi Ketua PKK adalah jabatan strategis, ajang untuk tampil. Bu As menikmati peran menjadi ibu nomor satu di kampung.
Lauk Daun - Hartari, halaman 23
Sudah lama saya tidak tertawa lepas dan gemas-gemas sebal ketika membaca sebuah buku. Beberapa waktu belakangan memang bacaan saya sedang dipenuhi karya-karya yang cenderung ‘berat’, entah isinya memang berat seperti Metode Jakarta, atau berat betul bukunya seperti karya Junghuhn yang juga sangat tebal dan isinya lebih ke bikin senyum dan takjub ketimbang ketawa. Selingannya, buku-buku Agatha Christie yang saya baca tiap bulan untuk ikut Tantangan Bacanya juga jauh dari kata lucu. Jadi ketika bertemu buku Lauk Daun (thanks to @awaywithbooks) saya senang sekali karena akhirnya bisa tertawa ditengah bacaan yang serius.
Saya agak menebak-nebak dari kaver bukunya, saya kira ini tentang makanan pendamping nasi berupa dedaunan; atau yang biasa kita sebut sayur. Tapi nyatanya jauh betul dari prediksi saya, dan justru judul buku ini lah yang bikin saya tertawa tak henti-henti.
Membaca Lauk Daun (1)
Lauk Daun bercerita tentang dinamika hidup di kampung Merdeka, sebuah kampung di tengah kota yang sangat mirip dengan kampung-kampung pada umumnya. Penghuninya beragam, status sosial ekonominya beragam, pekerjaannya pun beragam. Penulis membuka buku ini dengan kerusuhan di grup WhatsApp (WA)! (beneran mirip komplek atau RT kamu gak tuh ada grup WAnya!). Warga di grup WA ini sedang berunding tentang pandemi yang datang dan apakah perlu kampung mereka melakukan Lockdown.
Diskusi di grup ini tentu saja seru betul, ada yang setuju, ada yang tidak, ada yang vokal berbicara (baca: mengirim dan membalas pesan), ada juga yang menjadi silent reader saja. Ya rupanya ini memang sehari-hari terjadi di Kampung Merdeka. Bukan hanya ketika pandemi saja.
Diskusi tersebut menjadi pengantar menuju cerita selanjutnya: asal usul kampung merdeka, dari penamaannya sampai sejarah kepala kampungnya. Fokus cerita Lauk Daun memang berpusat pada kepala kampungnya. Mulai dari masa Pak Aripin, Pak Amar hingga Pak Asikin dan istrinya Bu Asikin (yang lebih dikenal dengan sebutan Bu As) yang menjadi pemimpin Kampung Merdeka. Meskipun Pak Asikin, seperti bapak-bapak pada umumnya, tidak terlalu heboh dan ingin biasa saja dalam memimpin Kampung Merdeka, tapi Bu As ternyata punya misi lain: Ia ingin menjadi Ibu kepala kampung dan kepemimpinannya membekas dan berprestasi, sehingga dimulailah dramanya disini. Kenapa drama? karena Bu As sebetulnya bukan sosok yang dekat dengan masyarakat, ia bahkan tidak mengenal semua orang di Kampung Merdeka meskipun sudah tinggal di sana.
Dinamika Warga Kampung Kota
Ketika membaca buku ini, saya jadi ingat kampung Ibu saya. Yap, Ibu saya, bukan saya. Kebetulan saya belum memiliki rumah tetap alias masih mengontrak dan mencari rumah yang pas dari waktu ke waktu, alhasil tak banyak bisa bersosialisasi dengan warga setempat, tapi Ibu saya, yang rumahnya tetap di satu kampung, dan saya yang juga menyicip hidup sebagai warga kampung yang sama selama beberapa waktu yang sama, paham betul dinamika yang terjadi di Lauk Daun ya memang ada di kehidupan warga.
Bedanya, saya tidak pernah menemukan kombinasi Ibu-ibu menyebalkan yang kemudian diberikan kesempatan untuk mengecap kekuasaan. Alias biasanya yang jadi Pak RT dan Bu RT ya baik-baik saja, yang nyebelin ada tapi karena sudah terkenal menyebalkan ya tidak mungkin dipercaya jadi RT hehe.
Tokoh utama dalam buku ini, Bu As jadi kombinasi menyebalkan ketika misalnya ia ingin warga kampungnya mengikuti lomba kampung hijau dan semuanya harus memiliki pohon cabai, jika tidak akan di denda, tapi disisi lain Bu As adalah pedagang tanaman, warga yang tak sempat menanam mau tak mau harus membeli tanaman kepadanya. Ia juga jadi kombinasi menyebalkan ketika sudah tidak menjabat sebagai Bu RT namun masih mengatur-ngatur Bu RT yang baru, atau ketika ia memaksakan semua warga untuk berolahraga, atau sok tau tentang acara kampung, sok asik pula.
Bu As jadi super duper menyebalkan dan membuat kita gemas ketika membaca tingkahnya. Sementara itu seperti halnya dinamika di kampung, bapak-bapak kecil sekali perannya di sini (di sini: di drama dan pergosipan kampung). Seperti halnya di kampung-kampung kebanyakan: Ibu Ibu lah pemegang kekuasaan sebenarnya. Alias kalau Ibu-ibu gak mau kerja ya sepi juga kampungnya.
Selain kelakuan Bu As, kita juga akan menemukan sosok Yayuk yang tak kalah dominan. Yayuk jadi stereotipe perempuan yang juga sering digosipkan tetangganya seperti Bu As, bedanya Yayuk digosipkan karena kisah asmaranya. Suka gonta ganti pacar, hamil duluan sebelum menikah, hingga batal kawin siri karena calon suaminya dijemput istri sah, tak kurang kurang ia juga tipe warga yang senang ribut dengan tetangga lainnya.
Bu As, Yayuk dan warga lain di buku ini rasanya begitu dekat dengan saya yang selama ini hanya jadi silent reader saja di kampung.
Kenapa tertawa lepas sekaligus gemas?
Mungkin tidak sepenuhnya tepat kalau sepanjang buku, saya hanya tertawa-tawa saja. Lebih tepatnya terhibur ya. Melihat tingkah Ibu-Ibu dan Bapak Bapak Kampung Merdeka rasanya seperti sedang menonton sitkom, walaupun tidak ada punch line di setiap bab. Hanya beberapa bab saja yang memberikan punch line tersebut. Tapi karena temanya begitu dekat, yaa hiburannya makin terasa.
Emosi lain yang muncul justru gemas dengan tingkah Bu As dan Yayuk, tapi tahu tidak kawan? Sering kali kita memang tidak bisa berbuat banyak jika kita berada di posisi warga Kampung Merdeka yang ada dibawah ‘jajahan’ Bu As. Kenapa? karena tidak banyak dari kita yang mau ambil bagian atau repot-repot menjadi Ibu PKK seperti Bu As. Tidak ada juga bapak-bapak yang mau repot-repot jadi ketua RT. Seperti halnya di Kampung Merdeka, kebanyakan jabatan RT RW di tempat kita ya karena tidak ada yang lain yang mau saja hehe, dan ini ya memang relatable dengan warga kampung kota. Karena kalau di desa, jabatan Kepala Desa justru jadi rebutan dan pertarungan yang sering kali berdarah atau bisa memutus tali silaturahmi antar saudara sendiri; karena di desa ada Dana Desa yang jumlahnya tidak sedikit :’) sementara di Kota kan tidak ada.
Jadinya yaa gemas-gemas tapi tidak bisa melakukan hal lain juga, ujung-ujungnya: gosip dan ngomongin di belakang. Persis betul warga Kampung Merdeka.
Membaca Lauk Daun (2)
Saya membaca buku ini tidak sekali duduk, tapi dua kali duduk. Tetap bisa cepat diselesaikan karena bukunya tipis, masuk ke kategori novella ketimbang novel. Bahasanya tidak berat, tidak ada plot twist yang terlalu bikin hah heh hoh dan saya suka betul tema kehidupan sehari-hari yang diambil di sini. Senang sekali ada novella ringan yang mendapat predikat “Naskah yang menarik perhatian juri” pada Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2021; rasanya bisa juga ya sastra dekat dengan saya, sastra dekat dengan masyarakat biasa. Bisa dikunyah dengan mudah tanpa harus berkerut memikirkan maknanya.
Kalau kamu suka cerita slice of life, mau melihat dinamika kampung dalam bentuk tulisan, kamu bertemu Bu As dan sebal-sebal sendiri dibuatnya, sedang mencari bacaan ringan tapi bermakna untuk keluar dari reading slump, coba baca buku ini deh! seru!
Malamnya, aku mengajak bicara Jay Catsby—Kucing yang sering datang ke kamar kosku—sampai kami berdua tertidur. Kuceritakan padanya tentang Penyair K, tentang si kecu Alif Sudarso, tentang Ibuku, tentang Sekar, tentang kalimat “Dari sekian banyak cara untuk mati, yang terburuk adalah melanjutkan hidup” yang tertera di nisan sesuai permintaan Pat. --Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu - Dea Anugrah
Membaca Bakat Menggonggong (1)
Ketika tahu kalau buku Bakat Menggonggong di cetak ulang, saya tidak heboh bersemangat hendak segera membeli dan membaca buku ini walaupun saya sangat menikmati membaca esai-esai Dea yang sudah saya baca beberapa tahun lalu dan begitu membekas buat saya. Alasannya sederhana: saya tak begitu mahir membaca cerita pendek. Beberapa kali mencoba membaca cerita pendek, saya sering bingung dengan maknanya, atau sering kecewa karena ceritanya begitu pendek (padahal ya namanya juga cerita pendek), tapi lebih sering alasan pertama sebetulnya. Karena itu saya menunda membeli langsung buku ini. Tapi seorang kawan mengirim saya pesan pendek, “coba baca, As! kayanya kamu akan suka”.
Jadilah saya membeli buku ini, berbarengan dengan sepaket buku-buku lain yang saya beli di bulan Juni. Bulan kesurupan karena saya habis menjual beberapa koleksi buku dan uangnya saya pakai lagi untuk membeli buku-buku baru. Lalu membaca cerita pertamanya, saya lanjutkan ke cerita kedua, ketiga, eh kok tidak serumit yang saya biasanya temukan ketika membaca cerita-cerita pendek lainnya. Saya juga merasa cara Dea ‘bercerita’ di buku ini sangat mirip dengan caranya bercerita di dua buku kumpulan esainya yang sudah saya baca.
Diskusi Buku Bakat Menggonggong
Tidak berapa lama, saya dapat info kalau Dea akan mampir ke Bandung untuk tur buku ini, di TB Pelagia tempatnya. Saya tentu saja sangat ingin datang, tapi sebagai seorang ibu dua anak, satunya toddler, satunya belum genap dua bulan, ikut acara-acara di tempat terbuka seperti ini sangat bergantung pada mood anak-anak, energi saya hari ini—apakah masih tersisa atau tidak— dan kesediaan Bapak Hari untuk mengantar istrinya ke Bandung. Beruntungnya hari itu ketiga prasyaratnya terceklis, sehingga saya bisa ikut acara diskusi bukunya.
Lewat acara ini, saya jadi bisa dengar langsung terkait proses kreatif Dea dalam menulis, termasuk bagaimana tulisan fiksi dan nonfiksi Dea memang tidak jauh berbeda karena menggunakan cara bercerita yang sama, “Bedanya kalau esai ya harus benar info dan apa yang dibahas, tapi seharusnya pendekatan penulisan tidak mengkotak-kotakkan genre tulisan” katanya.
Dea juga berbagi tentang Fabulasi, yang ia gunakan dalam menulis beberapa cerita pendek di buku ini, ini yang menarik buat saya yang tidak pernah menulis fiksi, fabulasi ini teknik dimana penulis memasukkan beberapa cerita atau fakta yang benar adanya, sehingga pembaca penasaran “ini ceritanya beneran atau tidak ya?”. Saya lalu jadi ngeh, oh ini ya cara bercerita di Raden Mandasia di Pencuri Daging Sapi, yang sesudahnya membuat saya benar-benar cek mana yang benar mana yang karangan penulis. Di kumpulan cerpen ini, salah satu cerita yang menggunakan teknik ini adalah Kisah Afonso.
Bagaimana Dea menulis
Karena sudah datang langsung bertemu penulis yang bukunya sangat saya nikmati, tidak lengkap rasanya kalau tidak menyampaikan langsung bagaimana tulisan-tulisan Dea di dua kumpulan esainya: Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya dan Kenapa Kita Tidak Berdansa sangat berarti buat saya karena membuka jalan saya untuk berkenalan dengan buku-buku lain. Mulai dari Pulang karya Leila Chudori, Tempat Terindah di Dunia karya antropolog Roanne van Voorst, karya-karya Gabo (yang tentu saja belum saya baca semuanya, sampai The Makioka Sisters.
Selain apresiasi tersebut, saya tentu penasaran, bagaimana bisa menulis esai yang sangat baik seperti yang beliau tulis.
Menurut Dea, salah satu alasannya karena sebagai jurnalis, ia bukan tipe jurnalis yang bisa siap bangun pagi-pagi untuk mengejar narasumber, ia tipe jurnalis yang lebih ‘santai’ dan diakomodasi oleh pemred saat itu untuk menulis cerita yang sesuai dengan gayanya, jadilah ia yang harus menyesuaikan bagaimana caranya menulis cerita-cerita yang terlihat sederhana dari sudut pandang yang berbeda. Salah satu yang dikenangnya adalah saat ditugaskan di pulau tanpa penduduk saat Tahun baru, yang tidak memiliki nilai historis apapun atau tidak memiliki cerita unik apapun.
Kemampuan menuliskan cerita sederhana dari sudut pandang yang berbeda, ditambah lingkungan yang mengakomodasi dirinya menuliskan dengan gayanya alih-alih menjadikannya jurnalis yang harus bangun pagi untuk mengejar narasumber tadi, jadi kombinasi yang membentuk esai-esai Dea yang ciamik.
Ikut langsung diskusi buku kemarin rasanya sangat menyenangkan. Banyak sekali hadirin yang juga meramaikan diskusinya, ada yang pembaca seperti saya, ada juga jurnalis dan penulis, tidak hanya mendengar tentang teknis menulis, tapi juga pandangan Dea tentang bagaimana seharusnya ‘Sastra jangan terlalu banyak bicara’, mengkritisi Seno Gumira Ajimara yang bilang Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.
Sastra jangan terlalu banyak bicara, karena kalau menggantikan jurnalisme, jadi seperti berita. Jurnalisme harus berisik, sastra sebaliknya. Sastra tujuannya mengganggu pikiran orang, membuat orang-orang memikirkan lagi apa yang mungkin tidak dipikirkan, tidak seharusnya berkhutbah, itu tugas jurnalisme.
Membaca Bakat Menggonggong (2)
Saya baru bisa menuliskan pengalaman saya mengikuti diskusi buku kemarin setelah saya akhirnya menamatkan membaca Bakat Menggonggong. Saya masih tetap berpendapat membaca cerpen itu susah, bahkan ketika narasinya mengalir dan enak untuk dibaca seperti cerpen-cerpen Dea, ada beberapa cerpen yang harus saya baca berulang untuk benar-benar memahami maksud tulisannya. Sejujurnya beberapa cerpen tidak pusing-pusing saya cari maksudnya apa, tapi ya beberapa cerita betul-betul membekas.
Cerita favorit saya di buku ini adalah cerita yang saya kutip diatas. Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu. Saya suka sosok jurnalis dalam buku ini menjadi teman bercerita sosok Pat yang antisosial tapi menjadi banyak bicara ketika bertemu dengannya. Cerita lain yang membekas: Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu. dan Omong Kosong yang Harus Ada. Oh ini membekas sekali karena sempat dibahas sekilas di diskusi buku kemarin, tentang bagaimana sepinya menjadi seorang caregiver dan secara personal juga sedih sekali membaca kisah Ibu dalam cerita ini, yang begitu hebat lalu habis betul ketika disakiti seorang lelaki.
Buat yang tidak jago membaca cerpen, saya menikmati membaca kumpulan cerpen ini, kocaknya ada, pesimismenya terasa, kocak-kocaknya juga ada, tapi memang yang paling menyenangkan tetap bagaimana cara naratornya bercerita. Seabsurd apapun ceritanya, saya merasa seperti sedang membaca dongeng yang bagus.
Cover Buku Salt to the Sea versi Bahasa Indonesia
Jika ditanya apakah saya tahu tragedi besar di lautan yang menelan banyak sekali korban, saya mungkin akan menjawab Titanic sebelum membaca buku ini. Fiksi sejarah 369 halaman ini mengajak saya dan pembaca lainnya untuk berkenalan dengan tragedi terlupakan yang enam kali lebih mematikan dibanding Titanic: Wilhelm Gustloff.
Salt to the Sea ditulis tahun 2016 dan mendapatkan banyak penghargaan, salah satu yang paling populer: Goodreads Choice Awards untuk kategori Best Young Adult 2016. Terjemahan Bahasa Indonesianya terbit tahun 2018, diterjemahkan dengan sangat baik oleh Putri Septiana Kurniawati. Sedihnya, saya baru pertama kali mendengar tentang buku ini ketika seorang kawan, membawa buku ini di Klub Buku Hayu Maca tahun lalu. Kala itu saya membaca As Long As the Lemon Trees Grow, Ica, membawa buku ini, yang temanya serupa: Perang dari sudut pandang masyarakat sipil, dan khususnya sudut pandang remaja atau usia dewasa awal.
Saya penasaran sejak saat itu namun baru bisa betul-betul membaca buku ini bulan lalu, dan menurut saya ini jadi salah satu buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca kalau kamu suka fiksi sejarah atau tema spesifik perang dunia kedua.
Perang Dunia Kedua dan Wilhelm Gustloff
Ruta Sepetys, penulis buku ini mengajak saya kembali ke tahun 1945, masa-masa kelam bagi warga Jerman dan koloninya yang sudah diujung tanduk karena kalah perang dan harus melakukan banyak cara untuk bertahan hidup. Menariknya, buku ini ditulis dari empat sudut pandang. Emilia, Joana, Florian dan Alfred. Keempatnya adalah warga di usia remaja dan dewasa awal dengan latar belakang yang berbeda, namun dipertemukan di sebuah kapal besar yang akhirnya menentukan nasib mereka.
Emilia, remaja perempuan yang dititipkan orang tuanya ke salah satu kerabat namun justru mengalami kejadian yang mengubah jalan hidupnya, bertemu dengan Florian, seorang pelarian asli Prusia, staf di Museum yang diurus langsung tangan kanan Hitler yang kabur membawa rahasia besar. Emilia dan Florian bertemu Joana dan rombongan perjalanannya; Heinz kakek tua pujangga sepatu, Klaus si pengembara kecil, Ingrid yang buta, dan Eva si wanita 50 tahunan yang berbadan besar seperti seorang viking. Mereka semua memiliki alasan yang kuat untuk segera mengungsi dan bertahan hidup. Bersama-sama mereka semua berusaha mencapai kapal Wilhelm Gustloff yang akan membawa mereka ke Kiel.
Melalui sudut pandang Emilia, Florian dan Joana, kita akan melihat bagaimana perang memengaruhi hidup mereka. Tentu saja ceritanya perih, namun kita tetap bisa menemukan kehangatan dari interaksi mereka, favorit saya sebetulnya bukan tokoh-tokoh yang menjadi pencerita ini, tapi justru Kakek tua Heinz dan Klaus si pengembara kecil.
Empat Sudut Pandang dan Bab yang Ringkas
Saat membaca buku ini, awalnya saya dibuat pusing karena ada empat PoV atau sudut pandang yang membuat saya harus langsung switch PoV ketika Bab berganti. Masalahnya Bab dalam buku ini ringkas sekali, satu sampai empat halaman saja, ada beberapa yang lebih panjang tapi tidak banyak. Setelah agak lama membaca barulah mulai bisa ngeh sudut pandang siapa yang sedang bicara dan siapa mereka. Ini bisa jadi kelebihan buku buat yang tidak suka bab-bab panjang, namun juga jadi kekurangan buku ini buat pembaca seperti saya yang lebih menyukai paragraf-paragraf yang lebih kaya dalam menjelaskan kejadian di buku. Masalah selera dan preferensi membaca ya kalau ini.
Oh iya, buku ini juga menarik karena menambahkan satu sudut pandang dari pelaku kejahatan perang, Alfred namanya. Sebetulnya dibilang pelaku pun, tidak ada kejahatan spesifik yang dilakukan Alfred, jadi bisa jadi saya salah. Namun Alfred digambarkan sebagai seorang Nazi totok, yang sangat mengagungkan Hitler dan sangat dipengaruhi propaganda Nazi. Alfred menjadi tokoh penting yang nantinya akan membantu Emilia, Joana dan Florian naik ke Wilhelm Gustloff.
Perjalanan Darat dan Laut
Meskipun judul dan blurb yang diberikan adalah tentang tragedi di lautan dengan kapal yang membawa puluhan ribu orang, tiga per empat bagian buku ini berisi perjalanan di daratan, alias kita tidak akan langsung disuguhi cerita mereka di laut; agak berbeda dengan bayangan saya tentang buku ini, ketika membaca blurbnya saya kira pengalaman bacanya akan seperti membaca Life of Pi karya Yann Martel, buku yang sepanjang membaca membuat saya ikut berimajinasi, ikut mabuk laut dan dibuat ketakutan dengan ganasnya ombak.
Meskipun begitu perjalanan di darat ini justru banyak memberikan cerita bagaimana satu sama lain tokoh di buku ini bertemu dan rahasia-rahasia yang mereka simpan rapat-rapat yang akhirnya terbongkar.
Perjalanan darat, walaupun tidak menakutkan atau membosankan seperti perjalanan laut, juga memberikan beberapa adegan yang membuat kita deg-degan, salah satunya adalah saat rombongan penyintas ini harus menyebrangi danau es yang terlihat kokoh; dan memang kokoh! namun sebuah kejadian menimpa yang membuat semua yang sudah menyebrang harus mengambil langkah menyelamatkan diri.
Akhir yang sesuai dengan apa yang saya harapkan
Kalau kamu kenal saya di kehidupan nyata, kamu pasti tahu saya tipe orang yang lebih suka cerita-cerita berakhir bahagia. Apalagi kalau perjalanan ceritanya perih betul. Nah buku ini memberikan akhir yang sesuai harapan saya, walaupun tidak bisa dibilang happy ending banget-banget. Akhir buku ini loncat ke beberapa puluh tahun kemudian, dan menjelaskan keadaan tokoh-tokoh di buku ini setelah tragedi Wilhelm Gustloff. Tentu saja tidak semua orang selamat, tapi ada yang bertahan.
Sekali lagi, kalau kamu suka fiksi sejarah, aman-aman saja dengan cerita pilu tentang perang, dan menyukai cerita dengan beberapa fakta sejarah yang tidak banyak dibicarakan, saya sangat merekomendasikan kamu untuk baca buku ini!
Ketika masih kuliah dulu, saya sangat suka sekali menulis cerita perjalanan. Saking sukanya, saya agak terobsesi, banyak belajar, blog-walking ke blog para traveler yang jago banget nulis, beli buku travel blogger yang terkenal kala itu, sampai ikut kelas-kelas menulis perjalanan secara luring (waktu itu belum marak kelas daring).
Saya pikir dulu saya senang menulis tentang perjalanan karena banyak perjalanan yang saya lakukan, mulai dari yang dekat sampai yang jauh. Tapi sepanjang bekerja di 2023-2024 saya juga banyak sekali melakukan perjalanan ke tempat-tempat baru, dari Aceh sampai Papua, ternyata bukan tempatnya yang jadi kendala, belakangan saya menyadari kenapa saya tidak bisa menuliskan cerita perjalanan saya yang padahal lebih beragam tempatnya: saya jadi tidak memaknai perjalanan saya karena harus bekerja dengan ritme cepat.
Perjalanan ketika bekerja artinya buru-buru berangkat ke bandara, ini biasanya dari jam 02.00 atau 03.00 dini hari, karena saya tinggal di Cimahi dan penerbangan kebanyakan dari Soekarno Hatta, dan buru-buru pulang mengambil pesawat tercepat yang bisa diambil, lalu segera lanjut ke Cimahi menggunakan travel tercepat yang tersedia, rupanya saya jarang sekali 'santai' di perjalanan yang menyangkut urusan pekerjaan karena: punya anak. Prioritas saya berubah, sesedikit mungkin waktu di perjalanan dan waktu bekerja di luar rumah agar bisa segera bertemu Rana. Hanya satu atau dua perjalanan yang memang saya niatkan lebih panjang agar bisa lebih santai dan tidak terburu-buru di jalan, salah satunya perjalanan ke Jayapura di pertengahan 2024 karena itu untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Papua.
Jayapura - a short gateway during a work trip in 2024
Bicara tentang tulisan tentang perjalanan, salah satu penulis yang masuk ke top of mind saya adalah Agustinus Wibowo. Nama ini bukan nama yang asing ya di dunia travel writing. Bukunya sudah banyak diterbitkan penerbit mayor di Indonesia, saya sendiri punya empat bukunya di rumah, namun baru membaca dua buku yang pengalaman membacanya sangat membekas buat saya karena cara beliau memaknai perjalanan sungguh berbeda dan membuat saya sebagai pembaca merasa dibawa ke lokasi tempat beliau melakukan traveling. Tak hanya diajak 'jalan-jalan', saya juga diajak kenalan dengan orang-orang, budaya, sejarah singkat mengenai lokasi dan sejarah peradaban di tempat tersebut.
Beberapa waktu lalu, saya membaca kumpulan tulisan Agustinus Wibowo sejak tahun 2000an sampai tulisan pada masa awal covid-19 yang dimuat dalam buku Jalan Panjang untuk Pulang. Buku ini memuat 34 tulisan Agustinus. Beberapa pernah dimuat dalam majalah travel seperti National Geographic (NG), baik NG Indonesia, atau NG di Negara lain. Dibagi menjadi empat bab: Bab 1 Lokasi, Lokasi, Lokasi, Bab 2 Melintas Batas, Bab 3 Rumah di Sini dan di Sana, dan Bab 4 Pulang, bacaan sebanyak 460 halaman ini betul-betul membuat saya kagum dengan cara Agustinus menulis dan memaknai perjalanannya.
Mengenal Cina lewat tulisan Agustinus
Buku ini memuat cukup banyak tulisan tentang Cina, tulisan tentang Cina cukup membekas buat saya, terutama tulisan tentang sejarah keluarga yang cukup personal tentang bagaimana keluarga penulis yang asli Tionghoa bisa sampai di Indonesia, pengalaman menjadi orang Cina di Indonesia dan bagaimana pengalaman 'pulang' penulis ke Tiongkok.
Membaca buku ini, mengingatkan saya pada buku Perkumpulan Anak Luar Nikah karya Grace Tioso yang memberikan perspektif menjadi orang Cina di Indonesia dan sedih sekali rasanya ketika membaca kutipan berikut sebagai salah satu catatan kejadian kumpulan rasisme yang terjadi ke 'Orang Cina' yang mencapai puncaknya pada 1998.
Suharto melarang segala hal yang berhubungan dengan komunisme, dan baginya, itu termasuk segala hal yang berhubungan dengan Cina: bahasa Cina, budaya Cina, agama Cina. Orang-orang Cina di Indonesia juga diharapkan memutuskan hubungan dengan negeri leluhur dan melupakan tradisi leluhur, demi menjadi orang Indonesia seutuhnya. Tetapi, tidak peduli seberapa pun orang Cina berusaha melebih ke dalam dunia Indonesia, mereka selalu dicurigai sebagai orang luar, yang masih lebih setia pada Cina daripada Indonesia. - Hal 449
Tetapi justru di Cinalah pertama kali aku menyadari, bahwa aku bukan bagian dari negara Cina......... Di tanah kelahiranku, aku adalah orang asing; dan di tanah leluhurku, ternyata tetap aku adalah orang asing. -- Hal 458
Di Darah dan Nasionalisme saya juga diajak membaca refleksi penulis tentang makna pulang:
Justru ketika berada di Cina, saya pertama kali menyadari betapa Indonesianya saya.
Lewat tulisan ini, kita diajak berpikir kritis tentang makna nasionalisme dan identitas kesukuan yang seringkali menjadi konflik di beberapa tempat. Penulis mengaitkan hal ini dengan Imagined Community-nya Benedict Anderson. Orang-orang sebangsa itu, dalam angannya, memiliki darah yang sama dengan dirinya, leluhur yang sama, budaya yang sama, sejarah yang sama, musuh yang sama, impian dan masa depan yang sama. Tetapi ini, sekali lagi, adalah sebuah angan (Hal. 222).
Semua identitas bangsa ini memang adalah imajinasi, tetapi imajinasi ini sangatlah penting. Dengan imajinasi sebagai satu bangsa ini, beratus-ratus etnik yang ada di Indonesia bisa bersatu untuk mengusir penjajah asing dan mendirikan negara Indonesia. Imajinasi bangsa ini pula yang mebuat negara -bangsa Indonesia berdiri hingga hari ini. Tetapi Nasionalisme adalah pedang bermata ganda. Disatu sisi dia berguna untuk mempersatukan "kita" untuk melawan musuh di luar, tetapi di sisi lain, dia bisa digunakan untuk menghantam orang-orang di dalam negeri sendiri yang dianggap berbeda. Di Indonesia pada era Soeharto, minoritas keturunan Tionghoa dilabeli sebagai "non-pribumi", dipaksa untuk berasimilasi dengan berbagai peraturan diskriminatif. Di Papua, tentara Indonesia pada masa Orde Baru pernah memaksa warga asli untuk melepaskan koteka dan rok jerami. Di Cina, orang-orang muslim Uighur mendapat pembatasan dalam beribadah dan bepergian. Di Myanmar, orang Rohingya dianggap sebagai pendatang ilegal. Di Eropa, keturunan imigran Muslim sering dicurigai sebagai pelaku kriminal. Di Amerika, orang kulit hitam bisa dibunuh polisi tanpa proses pengadilan (Hal. 226-227).
Tulisan ini menyadarkan saya sekali lagi kalau hidup saya sekarang banyak mudahnya ya karena saya orang Jawa tinggal di Jawa, orang muslim tinggal di negara mayoritas Muslim, itu sudah jadi privilese sendiri yang seringkali saya abaikan.
Saya tidak pernah merasa saya rasis, semua orang, semua suku, semua agama, sama saja buat saya, saya bisa berteman dengan mereka selama saya cocok berteman sama mereka, tapi ya tulisan ini jadi bikin bertanya-tanya juga. Dengan saya sendiri gak rasis (yang mana menurut saya sendiri juga, gak objektif-objektif amat), apakah itu sudah cukup? atau ada hal lain yang bisa saya lakukan agar teman-teman minoritas bisa lebih diterima? Hal-hal seperti ini cukup bikin kepikiran setelah selesai membaca buku ini.
Perjalanan bukan sekedar foto-foto cantik saja
Sejak era media sosial di tahun 2010an sampai sekarang, tren plesiran untuk mengambil foto dan mengunggahnya di media sosial jadi tak terhidarkan. Saya sendiripun pernah melakukan itu ketika sedang 'fase'nya, tapi belakangan saya jarang sekali mengunggah foto perjalanan. Ketika mencoba menyelami lagi 'kenapa?', ternyata, saya tidak bisa menceritakan foto yang saya ambil tersebut. Fotonya ada cantik banget, tapi terus? apa maknanya buat saya? apa catatan saya tentang foto tersebut? tentang perjalanan tersebut?
Medio 2013-2014an, saya senang menangkap momen atau mengambil foto yang bisa bercerita. Kebanyakan saya tulis di blog, sebagian ada di medsos walaupun sebagian besar sudah diarsipkan. Sekarang, karena perjalanan hanya sekedar perjalanan saja, maknanya berkurang, saya jadi tidak bisa bercerita, alhasil tak pernah berujung mengunggahnya ke media sosial atau ke blog.
Buku-buku Agustinus Wibowo jarang memuat foto instagram-able yang sering kamu temui di media sosial, di buku Jalan Panjang untuk Pulang ini bahkan semua gambarnya hitam putih karena tidak ada halaman berwarna, tapi saya jauh jauh jauh lebih suka membacanya dibanding melihat foto cantik dengan kontras tinggi di media sosial. Saya suka sekali foto yang bisa bercerita. Semua foto dibuku ini menjadi pelengkap bagi cerita dan semua makna perjalanan bagi penulis. Tak hanya cerita dari PoV penulis, tulisan-tulisan ini juga kebanyakan ditambahkan beberapa fakta sejarah yang baru saya tahu karena ada banyak tempat unik yang dikunjungi penulis.
Fakta-fakta sejarah seperti awal mula konflik India dan Pakistan serta sengketa Kashmir lewat tulisan Surga yang Berontak, fakta bahwa Pakistan adalah lokasi salah satu peradaban tertua di dunia yang melahirkan agama-agama Timur di tulisan Ketika Tuhan Menjadi Negara, Kisah tentang migrasi orang-orang Jawa menjadi buruh pekerja di Suriname lewat tulisan Dukun Jawa di Belanda dan Imigran Jawa Terakhir di Suriname, bagaimana awal mula kisah diaspora Republik Maluku Selatan (RMS) di Belanda lewat tulisan Kisah Maluku di Negeri Belanda, juga fakta menarik tentang akhir pekan sebagai hari yang paling berbahaya di Papua Nugini lewat tulisan Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi.
Ada terlalu banyak highlight dan sticky notes anotasi saya di buku ini saking banyaknya fakta baru yang saya tahu. Sejujurnya fakta sejarah ini membantu saya memahami kenapa penulis bisa memaknai perjalanan sedalam ini. Saya sampai penasaran, penulis riset sejarahnya sebelum melakukan perjalanan? atau ketika sedang menulis hasil perjalanannya? atau keduanya?
Buku Wajib untuk Kamu yang Suka Memaknai Perjalanan
Terakhir dari saya, buku ini wajib wajib wajib (haha tiga kali) kamu baca kalau kamu tipe orang yang mirip saya: suka memaknai perjalanan. Kadang perjalanan yang jauh dan menghabiskan banyak uang tidak selalu jadi perjalanan bermakna, kalau kita lewat memaknainya. Salah satu cara memaknai perjalanan tersebut: dengan menulis. Menceritakan apa yang kita rasakan, bagaimana interaksi kita dengan orang, dengan alam di tempat tersebut. Kadang juga bukan tentang lokasi baru atau lama, bukan jauh atau dekat, tapi seberapa 'berada di sana' kita, ketika sedang melakukan perjalanan.
Buku ini bisa kamu beli di Gramedia atau lokapasar daring. Penulisnya juga bikin video yang menjelaskan sekilas tentang buku ini di sini, silakan tonton dulu biar makin penasaran membaca bukunya!
Setelah membaca ini sampai selesai malam ini. Jadi paham kenapa Allah bilang kalau Kisah Yusuf ini salah satu kisah terbaik dalam Quran.
Ada terlalu banyak pelajaran berharga dari kisah Yusuf. Dr. Yasir Qadhi mengawali buku ini dg sebab...