Journal Asri
Pekan ini melelahkan sekali. Saya hampir gak punya waktu buat baca, gambar atau menulis saking lelahnya. Malam jam sembilan sudah tidur, pagi sudah kembali sibuk menyiapkan keperluan anak-anak dan langsung bekerja. Pekan ini juga harus commuting keluar kota beberapa kali. Sekali ke Serpong, sekali lagi ke Bogor. 

Dulu saya selalu gak suka perjalanan ke Serpong/BSD. Karena menuju kesana atau pulang dari sana tuh, jauh banget rasanya dan tidak tahan sekali bermacet-macetan di Jakarta, panjaaang sekali sampai akhirnya baru bebas macet ketika masuk tol layang MBZ. Tapi sekarang saya tim KRL + LRT + Whoosh sampai Cimahi. Perjalanan di KRL panjang sekali. Dari Rawa Buntu, turun di Tanah Abang, turun lagi di Manggarai, lalu pindah naik LRT di Cawang, sampai turun di Halim. Total biasanya satu jam. Tapi satu jam itu adalah satu jam yang jauh lebih baik dari pada macet di jalanan Jakarta. Kalau berangkat tapi saya masih lebih sering memilih naik Travel, karena mager pindah-pindah dan lebih sering tidur di jalan sampai ke BSD. 

Agak ngalor ngidul menceritakan perjalanan Commuting di Jabodetabek, soalnya saya agak bangga sama diri saya sendiri yang sekarang tidak lagi panik dan tidak nyasar di atas transportasi umum Jakarta. Walaupun justru kalau di Bandung tidak pernah naik transum (punten banget pilihannya terbatas). 

Masih ada akhir pekan kalau mau mengejar baca, gambar seru-seruan atau nulis atau tidur! Semoga bisaaa ya. Saya mau lanjut baca A Crane among Wolves, yang sepertinya seru. Tapi kepotong-potong terus bacanya sama pekerjaan yang masih lumayan dar der dor.  


Karya akhir pekan lalu: 

Gambar Tiger yang dipelajari dari buku: Drawing Class Animals karya Haegyum Kim, salah satu ilustrator favorit saya! 




Baru hari Kamis, tapi pekan ini begitu meriah.

Ketika membuat tulisan ini, menjelang tengah malam. Saya baru selesai menyelesaikan pekerjaan yang saya curi start lebih awal pengerjaannya agar besok pagi tidak terlalu rusuh. Saya mau mengantar anak-anak dengan tenang ke sekolah dan daycare besok.

Sejak kemarin, Saya dan Rana sakit. Saya masuk periode awal pilek, hidung tersumbat dan sakit kepala membuat semua terasa buruk. Rana demam dan badannya meriang. Hari ini harus istirahat di rumah dan tidak pergi ke sekolah. Sementara Itu Mas Har sibuk sekali mengurus dua pasien di rumah sambil harus tetap bekerja. (Sayang sekali Mas Har rasanya). 

Progres baca Senyap yang Lebih Nyaring

Sesuai rencana akhir pekan lalu, pekan ini saya membaca buku Senyap yang Lebih Nyaring karya Eka Kurniawan, yang mana seru sekali! Ada banyak sekali rekomendasi buku yang bikin penasaran, kebanyakan karya klasik, juga karya penulis Amerika Latin, juga sesekali penulis Asia, atau Eropa yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Oh Penulis Amerika juga ada. Jujur keinginan menggebu untuk membaca (yang artinya harus membeli) sangat tinggi. Tapi sebelum memutuskan untuk membeli buku-buku tersebut, saya mau fokus menyelesaikan baca buku Eka Kurniawan ini saja dulu. Karena yang sudah-sudah, membaca karya klasik, dan karya sastra, berat sekali buat saya. Butuh perjuangan. Walaupun ada beberapa yang cocok, tapi what so called Buku Sastra ini ampun sekali buat saya. Menyelesaikannya lama betul. Tapi ikhtiar untuk membacanya setidaknya dimulai dengan membeli buku-bukunya dulu. Sastra dunia yang terakhir saya baca dan saya cukup suka adalah Amuk, karya Stefan Zweig. Buku yang gila! Isinya orang-orang penuh obsesi tidak sehat haha, tapi intense sekali membaca cerita-cerita dalam kumpulan cerpen tersebut. 

Buku June Hur baru 50 halaman saya baca. Sementara itu kumpulan puisi Mosab Abu Toha masih belum saya lanjutkan baca. Baca puisi butuh waktu yang lebih mindful dibanding baca fiksi atau kumpulan esai yang bisa saya lakukan dalam perjalanan bolak balik Bandung Jakarta. Saya belum menemukan serunya baca June Hur, tapi akan mencoba lanjut sampai 100 halaman baru memutuskan mau lanjut lagi, atau sudah saja. 

Selain membaca, saya senang pekan ini sempat menggambar lagi. Saya mencoba menggambar menggunakan oil pastel, soft pastel, menggunakan kembali pensil warna yang sempat disimpan dalam wadahnya karena saya sempat cemas melihat banyak sekali pensil yang saya miliki tapi tak pernah digunakan. 

Inspirasi gambar: Instagram @artpavo_illustration

Gambar yang saya coba buat untuk belajar, masih meniru dari gambar orang di Instagram, atau di Pinterest. Saya senang melihat proses mereka membuat gambar tersebut, biasanya dalam sebuah video singkat maupun lebih panjang di YouTube. Saya meniru gambarnya dan tekniknya. Berharap tentu semakin hari saya bisa juga menggambar tanpa lebih sering meniru. 

Gambar-gambar saya buat dengan yang tidak meniru tersimpan rapi juga di jurnal saya. Tahun ini saya menggunakan Hobonichi Techo dan Hobonichi Weeks. Keduanya masih berfungsi sebagai jurnal cerita dan catatan kerja di bulan-bulan awal. Belakangan lebih sering saya pakai untuk visual journal. Kertasnya Hobonichi juara betul! Saya suka sekali. 

Pekan ini saya juga membeli soft pastel dari Mungyo, agak bingung di awal karena ada dua versi soft pastel, tapi saya putuskan membeli versi MPA, dan terasa betul bedanya dengan soft pstel dari Lyra yang saya beli tahun lalu (dan sudah dijual kembali karena tak pernah terpakai). Soft Pastel Mungyo warnanya sangat vibrant, seperti oil pastelnya. Semoga bisa lebih banyak berkarya dengan si soft pastel ini. Amin!

Sepertinya cukup sekian cerita malam ini. Semoga akhir pekan nanti bisa melanjutkan bercerita.

Salam,

Asri



Bonus Picture

Gambar Derana di Procreate setelah dibacakan buku How to Make Friends with A Ghost karya Rebecca Green! How I love this book! Di Akhir hampir menangis membacanya, Rana juga suka ceritanya. Di awal takut, di akhir berakhir sayang sama si Hantu.







Pekan ini ingin mulai membaca atau melanjutkan baca ketiga buku ini. Mari kita lihat updatenya di akhir pekan depan ya apakah berhasil dibaca semua.

1. Senyap yang Lebih Nyaring - Eka Kurniawan

Akhir pekan ini saya mulai membaca buku ini. Kumpulan tulisan dari blog Eka Kurniawan. Isinya tentang buku! Seru deh bacanya, padahal baru sekitar 30 halaman saja tapi saya menikmati sekali. Lewat tulisan-tulisan di awal saja saya sudah dibikin penasaran membaca kisah seribu satu malam. Sesuai prediksi akan dapat banyak buku yang saya jadi penasaran ingin baca di sini. Bukunya juga mengingatkan saya pada kumpulan esai Dea Anugrah yang menuliskan judul-judul yang jadi masuk TBR. 

Gak sabar mau membaca lebih banyak seminggu kedepan. Mungkin akan lama bacanya, karena saya mau sambil catat dan coret-coret juga. Sebagai seseorang yang senang menuliskan ulasan bacaan di Blog, jelas buku ini akan jadi salah satu referensi untuk menulis ulasan yang bernas dan menyenangkan untuk dibaca. 

2. Things You May Find Hidden In My Ear - Mosab Abu Toha

 

D

“Dar means house. My grandparents left their house behind in 1948 near Yaffa beach. A tree my father told me about stood in the front yard.

Dreams of children and their parents, of listening to songs, or watching plays at Al-Mishal Cultural Center. Israel destroyed it in August 2018. I hate August. But plays are still performed in Gaza. Gaza is the stage.”

Excerpt From Things You May Find Hidden in My Ear Mosab Abu Toha

Buku ini saya pilih secara acak ketika sedang menghindari scrolling media sosial (akhir pekan bisa buka Instagram soalnya), lalu saya buka aplikasi baca dan menemukan buku ini. Ternyata buku ini pernah saya unduh secara gratis ketika akhir 2023 lalu Israel menyerang Gaza. Beberapa penerbit memberikan daftar buku yang dapat diunduh gratis, salah satunya buku ini. Saya baru membaca sekitar sepertiga isi buku puisi ini namun sesak sekali membacanya. 

Puisi pertama langsung jadi favorit. Judulnya Palestine A-Z, berisi prosa yang kata kuncinya dikembangkan berdasarkan abjad. Contohnya Abjad D diatas. Berkisah tentang Dar (rumah). 

Semoga bisa diselesaikan juga seminggu kedepan, karena saya juga biasanya lambat urusan membaca puisi. 


3. A Crane Amone Wolves - June Hur

Buku yang ini jadi pelengkap supaya tetap ada fiksi yang saya baca di pekan ini. Buku yang sempat saya dengar di sebuah klub buku. Tanggapan rekan-rekan saya positif sekali. Saya jadi penasaran. 

Kebetulan bukunya baru datang kemarin. Mau saya baca sebelum masuk ke perpus dan bisa dibaca orang lain juga. 







Satu nonfiksi, satu buku puisi dan satu Fiksi terjemahan. Semoga ketiganya menjadi bacaan yang menyenangkan.

 

Pekan kedua tanpa sosial media yang terlalu ramai. Hanya Instagram yang sesekali dibuka untuk keperluan bisnis, login akun pribadi hanya di hari libur. Kepala rasanya lebih tenang, tidak terlalu banyak informasi yang bertebaran. Memang betul kata sebuah kutipan dari Youtube yang saya tonton waktu mau mengurangi waktu depan layar. News can wait. Dulu saya seringkali takut ketinggalan berita-berita penting kalau tidak buka sosial media. Padahal berita tersebut juga hampir tidak ada yang ngaruh langsung ke saya, tapi bikin pusingnya ada banget. Tidak mengakses X, Threads, TikTok, Instagram yang jarang banget dipakai buat consuming content, rasanya Ya Ampun, kaya space yang biasanya berisik itu sekarang tenang sekali. 

Tapi prosesnya memang gak mudah, karena sudah jadi kebiasaan. Saya juga menyadari kalau kebiasaan scrolling gak semudah itu bisa dilepas. Makanya disubstitusi. Saya tetap pegang HP kalau sedang idle atau lagi bosan, tapi bukanya Kindle, Playbook atau Books. Aplikasi buat baca buku. Pengganti scrolling. Saya gak baca di eReader karena ribet (ujung-ujungnya nanti craving buat scrolling lagi), jadi langsung di HP. Alasan lainnya gak di eReader juga karena eReader saya jatuh ke kolong kasur sejak beberapa waktu lalu dan belum saya ambil sampai sekarang LOL. 

Karena punya waktu banyak buat baca, saya menamatkan beberapa buku dalam dua minggu ini. Senang sih! Terutama karena buku-buku ini TBR yang saya memang punya bukunya, tapi belum sempat baca karena hal lain. Terus selain baca saya juga jadi rajin gambar-gambar lagi. Kalau gambar biasanya malam, habis anak-anak tidur. Saya mulai mainan soft pastels, tools yang belum pernah benar-benar saya coba. Saya beli Derwent Pastels isi 72, tapi gak yakin kapan pernah benar-benar dipakai, kayanya sekali waktu beli terus nyerah karena susah dan hasilnya jelek. Padahal setelah dipikir-pikir lagi, kayanya karena kertasnya aja salah dan waktu itu coba gambar realis, yang mana pakai cat air (media yang saya PD pakenya) aja saya jelek banget gambarnya. Jadinya sekarang buat gambar-gambar landscape aja. 



Saya juga mulai gambar di iPad kalau bosan. Akhirnya beli procreate berasa manfaatnya ya :') dulu tuh 2022 saya beli iPad Mini niatnya buat gambar-gambar. 2026, empat tahun setelahnya, kehitung jari banget berapa gambar yang tercipta dari sana, dibandingkan misalnya empat tahun saya dan wacom intuos yang kalau pakai ribet banget harus nyalain laptop dulu. Memang ga selalu tools yang bagus bikin kita rajin berkarya. 

Akhir pekan ini rencananya mau ganti baca buku baru. 1 Fiksi dan 1 Nonfiksi. Buat Fiksi mau lanjut menyelesaikan The Secret of Secrets karya Dan Brown, kayanya saya sudah baca sekitar 70% bukunya, sedikit lagi selesai semoga bisa segera selesai dengan cepat juga amin. Buat buku nonfiksi, saya baru saja berli Senyap yang Lebih Nyaring, tulisan non-fiksi Eka Kurniawan dari blog-nya, dan kebanyakan adalah ulasan buku! Semangat banget saya bacanya. Baru baca pengantar dan salah satu tulisannya saja sudah merasa akan cocok dengan bukunya. Semoga ya semoga. 


Sudah lama sekali saya gak baca karya Tere Liye. Dulu periode 2010-2014 waktu saya masih kuliah, saya lumayan sering baca buku Tere Liye, dan menikmati beberapa bukunya. 2017-2019 juga beberapa kali membaca lagi beberapa karyanya dan ada beberapa yang melekat sekali di saya. Tentang Kamu (Ini yang paling saya suka dari semua buku Tere Liye), Sunset bersama Rosie, Hujan, Pulang. Sisanya beberapa buku gak terlalu membekas. Tapi satu kesamaan dari buku-buku Tere Liye: page turner sekali. 

Belakangan nama Tere Liye mulai ramai di Medsos bukan karena karyanya yang dulu saya nikmati banget, tapi justru karena isu ghost writer dan beberapa problem personal karena yang bersangkutan lumayan aktif di medsos/Facebook. Saya gak terlalu mengikuti, tapi yang jelas di X lumayan banyak hatersnya (hehe), saya gak ngefans banget, tapi juga gak bisa dibilang haters wong beberapa bukunya saya nikmati buat dibaca. 

Kenapa beberapa waktu terakhir gak baca bukunya, ya simple: ketemu banyak buku lain yang menurut saya lebih menarik dan lebih ingin saya baca. Semakin bertambahnya usia, beban-beban kehidupan lain, kerja, ngurus anak dan rumah, bikin saya lebih selektif pilih bacaan karena waktunya gak banyak. 

Awal ketertarikan pada Buku ini

Lalu beberapa waktu lalu ketemu postingan Ko Ernest Prakasa tentang buku ini. Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Saya penasaran banget karena sepertinya topiknya menarik. Tentang penegakan hukum di sebuah tempat yang petingginya ngawur semua. (Iya kita semua tahu kok ini dimana!). 

Jadilah saya membeli buku ini, sekalian untuk koleksi di Imakata juga karena banyak yang cari buku Tere Liye di Imakata, dan saya termasuk orang yang percaya walaupun buku Tere Liye mungkin gak cocok buat semua orang (terutama yang sudah banyak ketemu penulis dan beragam genre lain), buku Tere Liye tuh bagus banget buat pembaca pemula yang baru mulai mau baca buku. Karena page turner, bikin penasaran. 

Membaca Teruslah Bodoh, Jangan Pintar

Saya baca buku ini dalam waktu satu hari saja. Bukunya tidak terlalu tebal 371 halaman saja. Berkisah tentang sidang tertutup yang akan menentukan keberlanjutan konsesi tambang sebuah perusahaan raksasa. Sidang antara kelompok aktivis lingkungan melawan pengacara perusahaan tersebut. Ditengahi oleh sebuah komite independen yang dipilih pemerintah melalui masukan dari masyarakat. Topik yang diangkat memang menarik sekali: politik, hukum dan lingkungan. Kita akan melihat cerita ini dari PoV aktivis lingkungan yang menyiapkan dan memperjuangkan agar konsesi tidak dilanjutkan. Sekilas kita juga akan melihat dari PoV oligarki, pemerintah dan juga pengacara tergugat (yang nama tokohnya dibikin mirip sekali dengan pengacara kondang yang dikenal semua orang Indonesia). 

Ada beberapa saksi dari masing-masing pihak yang diundang. Lewat kacamata para saksi, kita akan melihat kerusakan yang terjadi akibat penambangan yang tidak bertanggung jawab. Mulai dari anak yang mati di lubang bekas galian tambang, keluarga di sebuah pulau yang merasakan dampak bertahun-tahun hidup berdampingan dengan perusakan lingkungan, anak-anak yang mati dan cacat karena dampak pengolahan lingkungan yang amburadul, belum lagi akses air yang hilang, ikan-ikan yang tak lagi kunjung didapat nelayan, hingga penggusuran paksa dengan beragam cara yang diluar nalar. 

Tahu tidak yang bikin saya gak nyaman bacanya? Semua kasus di buku tersebut, terlalu dekat rasanya dengan kita. Kisah-kisah di buku tersebut adalah kisah yang sehari-hari kita baca beritanya, dengarkan di podcast (Pendengar Bocol Alus here). Jadi emosi banget karena sudah tahu anyway endingnya bakal kaya gimana. 

Disclaimer dulu Review ini dibikin agak cepat segera setelah saya baca, bisa jadi ada detail yang luput dan saya gak mencatat juga pengalaman membaca seperti yang biasanya saya buat kalau mau bikin ulasan agak niat. Tapi yang pasti buku ini bukan buku Tere Liye terbaik yang saya baca (masih belum ada yang berhasil menggeser Tentang Kamu sih! Bu Sri juara!). 

Bagian yang bikin gereget

Nah yang juga bikin gereget gak tahan adalah bagaimana tokoh-tokoh aktivis di buku ini dibikin kaya gak pandai berstrategi gitu, lalu ada sosok penulis (yang ku duga adalah Tere Liye menggambarkan dirinya sendiri?) dimana dia hadir menjadi pahlawan, bikin strategi di sidang yang menghadirkan kakak beradik Budi dan Rudi (kasus mereka adalah penggusuran lahan warga untuk pembangungan project strategis, tapi dengan cara-cara kotor ketika diskusi gak berjalan sesuai rencana). Si Penulis ceritanya membuat strategi dimana aktivis yang mewakili pihak penggugat meminta Rudi (sakti tergugat), cerita duluan alih-alih Budi (saksi penggugat), yang nantinya membuat keadaan berbalik dan strategi itu berhasil! secara storytelling ini bikin kita yang baca makin bersemangat karena wah, ada harapan nih buat at least bikin kebenaran terungkap. Tapi yaaa, strategi jitunya cuma dipakai SEKALI ITU AJA! Kecewa banget di persidangan berikutnya gak ada muncul strategi dari sang penulis. Kaya, kok gak konsisten pinternya gitu haha. 

Sosok aktivis yang dihadirkan di sini, alih-alih berstrategi dengan jitu, dihadirkan untuk menjadi jawaban dari mana saksi-saksi ini berdatangan. Bu Sri, mantan wartawan senior yang disiram air keras adalah penghubung ke kasus pertama, cerita Ahmad. Dandi adalah pembuka jalan datangnya Bu Siti yang menor dan kehilangan bayinya. Budi dan Rudi hadir lewat riset cerita sang penulis, saksi pamungkas yang rencananya dihadirkan di akhir sidang, hadir melalui pertalian cerita hidup dengan pemilik warung, aktivis yang diceritakan paling sangar lewat bekas lukanya, dan paling kesal kalau ada yang datang untuk mengeluh. 

Malah gak muncul strategi yang akan dilakukan aktivis-aktivis ini tuh gimana, kesannya kalau sekali baca kaya saya ini, ya mendatangkan saksi saja tapi gak dipersiapkan dengan baik di pengadilan bagaimana. Mungkin PoV yang ingin ditunjukkan penulis adalah PoV kalau dari awal sampai akhir ya memang kita gak akan menang melawan oligarki. 

--

Agak panjang ya ceritanya punten! haha, tapi menurut saya ini tetap bacaan yang fun, karena beneran page turner dan pacenya cepat, bikin kita bacanya gak bosan walaupun kesel juga dibikin baca cerita oligarki dalam bentuk novel ini! 

Setelah baca buku ini, saya mau coba baca Tanah Para Bandit, yang katanya juga lumayan bagus. Dulu tuh saya baca Pulang dan cukup suka sama cerita Thomas. Mari kita lihat yaa nanti gimana cerita Tanah Para Bandit ini. 


Salam, 

Asri

Sekarang ini pukul 00.18. Sudah sangat malam. Tapi gak tahan mau menuliskan apa yang ada di kepala. Beberapa waktu terakhir saya membaca dua buku yang keduanya bikin saya kangen ngeblog dengan lebih effortless.

Beberapa tahun terakhir, karena saya sering nulis review buku di Blog, bikin satu postingan aja beneran mikir dulu panjang. Seringnya gak pula dipos, jadi onggokan draft saja. Padahal dulu satu Paragraf saja tidak masalah buat diposting. Namanya juga blog pribadi jadi harusnya bebas aja. 

Tapi makin kesini makin berhati-hati buat bikin postingan di Blog.

Oiya. Dua buku yang saya baca adalah Teka Teki Gambar Aneh dan Supernova Petir. 

Di Teka-teki Gambar Aneh, diceritakan ada seorang laki-laki yang rutin posting di blog buat bikin memories bareng keluarganya. Tentu saja ini latarnya sebelum tahun-tahun sosial media semakin marak ya. Jujur cerita gambar yang diupload itu agak creepy, namanya juga buku misteri. Tapi poinnya adalah kangen suasana ngeblog tuh jadi sesuatu hal yang gak seharusnya effort banget disiapkan. 

Buku kedua Supernova Elektra berkisah tentang kehidupan Etra dan Mpret, dua mahluk aneh yang bekerja sama bikin warnet di Bandung medio 2000an. Gak ada cerita orang ngeblog sih. Malah bisa dibilang yang related ke blog adanya di buku Supernova terakhir (walaupun Supernova juga gak bisa dibilang blog). Tapi seru kayanya ya kalau throwback update isi kepala di blog lagi. Bukan InstaStory atau di Status WhatsApp (hehe yang ini saya gak pernah juga sih). 

Gara-gara baca dua buku itu, saya jadi ingin balik rutin ngeblog. Satu buku tambahan lainnya: buku Jonathan Haidth yang judulnya Anxious Generation. Ini baru satu bab aja selesainya. Tapi aku mau jadi contoh buat anak-anak ku. Contoh yang bagaimana: yang tidak jadi budak smartphone. Gak addictive yang sampai anxious kalau gak bawa HP dan selalu ingin melakukan sesuatu instead of bengong. 

Detox Medsos

Terus pekan ini saya sedang memulai detox sosial media. Saya hapus aplikasi medsos di HP saya. X, Threads, TikTok, deactive akun Instagram pribadi dan mengaktifkan hanya Instagram buat keperluan bisnis. Akun buku masih ada tapi saya login di iPad, rencananya sih biar kalau mau buka effort gitu hehe, jadi gak sering buka. KARENA ga buka medsos, jadi hilang media buat nulis panjaaang.

Rencananya perjalanan detox ini juga mau saya share deh di blog. Karena jujur susah banget buat menggantikan dopamine dari medsos dan kebiasaan scrolling. 

Jadi kayanya saya mau mulai coba lagi posting rutin walaupun isinya lebih mirip jurnal ceker ayam atau benang kusut isi kepala. 

Mari kita coba yaaa. 

Xoxo,

Asri

PS: gara-gara ini jadi tahu kalau di Blogger bahkan gak punya aplikasi di Appstore. LOL. 


Selamat lebaran semuanya! Minal Aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin! Semoga kita semua kembali dipertemukan dengan Ramadan dan Lebaran tahun depan (Amiiin). Lebaran tahun ini adalah lebaran yang paling tidak berasa lebarannya LOL. Satu karena kami gak mudik ke kampung Mas Har, dua karena saya dapat libur Sabtu Minggu saja, tidak mengambil cuti. Jumat masih meeting kerja, Senin juga sudah kerja lagi. Tapi senang betul karena lebaran di rumah Ibu, bisa makan masakan Ibu di hari pertama lebaran bahkan buat buka puasa hari terakhir. Opor dan sambal goreng kentang Ibu gak ada lawan sih!

Setelah silaturahmi dengan tetangga terdekat, kami main ke Bandung! mumpung sepi kan! Hehe, agak bingung cari tempat ngopi yang sudah buka, adik-adik ingin mampir ke kafe kekinian di Bandung, jadilah kami ke Dago, kafenya di daerah Dago Pakar. Dari Cimahi ke Bandungnya enak banget di Jalan. Sepi, teduh (tapi teduhnya kayanya karena di Mobil aja haha, di luar lumayan berasa panasnya). Sampai Kafe kaget dikit ternyata tempatnya sudah ramai. Tapi gak perlu waiting list, jadi bisa langsung pesan (dan tentu lama banget sampainya karena pasti jumlah karyawan terbatas bagaimanapun juga hari pertama lebaran). Kami pesan kopi dan Pizza. Ngobrol-ngobrol bentar, anak-anak main, lalu pulang lagi ke Cimahi. Agak kaget ketika pulang di luar sedang antri orang-orang waiting list. Saya bilang ke Mas Har, memang ya kalau mau cari cuan, lebaran itu bisa jadi panen-nya pebisnis di bidang FnB, tapi juga kasihan karyawannya T.T semoga yang masuk di hari lebaran dapat kompensasi lebih banyak dan lebih baik dari pada hari biasanya. 

Gak cuma antrian di kafe ini yang panjang banget, mobil-mobil keluar Pasteur juga padat panjaaaang sekali. Belum lagi ketika kami keluar dari gerbang tol Baros, antrian mobil juga panjang sekali menuju tol. Sepertinya memang kami keluar di waktu yang tepat. Pulangnya juga tepat. Ashar sudah kembali di rumah dan melanjutkan mandatory eid activity: Tidur Siang. 

Pulang ke rumah jelang Margrib, beli kembang api (request Derana) dan main kembang api sebentar sebelum lanjut istirahat dan tidur. 

Walaupun tadi bilang ini gak terlalu berasa lebarannya, tapi saya suka juga nih lebaran yang kaya gini. Berasa break aja dari beragam aktivitas. 

xx

Asri







Help! Aku kecanduan baca Supernova haha! Setidaknya untuk dua buku Partikel dan Gelombang! yang masing-masing bisa kulahap dalam waktu tidak lebih dari 2 hari saja.

Buat yang belum tahu, Supernova ini series karya Dee Lestari. Total ada 6 buku. Buku pertamanya Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh terbit tahun 2001 alias 25 tahun yang lalu! Dan seri ini tuh dulu kayanya hype banget tapi gak tahu kenapa saya gak terpapar blas. Tau aja karena bukunya seliweran di perpus. Tapi belum tergerak untuk baca. 

Bulan Januari lalu saya dikirimkan dua buku Dee Lestari seri Supernova yang Republish, covernya baru dan dilengkapi dengan ilustrasi yang cantik sekali dalamnya. Ada dua buku yang saya terima: Partikel dan Gelombang, yang mana adalah buku ke-4 dan ke-5 dari seri supernova. Seri pertamanya ada di Perpustakaan Imakata. Tapi jujur agak maju mundur mau baca. Jadinya saya coba-coba saja baca Pertikel. Eh malah keterusan sampai bukunya beres gak sampai 24 jam! Ternyata memang gak perlu baca dari buku pertama buat baca buku-buku ini, walaupun katanya kalau buat buku terakhir (Intelegensi Embun Pagi) tetap direkomendasikan untuk baca dulu buku pertamanya. 

Setelah membaca buku Partikel, aku memutuskan mencoba baca Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (KPBJ) dulu. Tapi ternyata butuh waktu yang lama banget buatku membaca KPBJ. 2 Minggu! haha. Lumayan bersyukur bacanya Partikel duluan karena kalau KPBJ duluan kok aku merasa malah belum tentu lanjut baca buku-buku lainnya. 

Kenapa susah dan lama banget baca buku pertama kayanya karena dipengaruhi alurnya yang pindah-pindah, teori-teori sainsnya juga kebanyakan sampai akhirnya aku bingung sendiri (sorry not sorry), terus yang paling menyebalkan adalah tema perselingkuhan antara Re dan Rana yang aduuuh gak sukaaa. Jadinya sebel sendiri bacanya. Tapi tetap bersyukur baca bukunya karena bertemu sosok Gio dan Diva, yang jadi plot penting di buku ke-5 yang mau saya baca: Gelombang. 

Gelombang diawali dengan hilangnya Diva si Bintang Jatuh dan pencarian tak berkesdahan Gio dan tim SAR setempat. Kalau tidak baca dulu buku 1 saya mungkin bingung mereka siapa. Sekarang saya penasaran baca Akar dan Petir. Tapi keduanya masih saya simpan dulu di keranjang lokapasar karena bulan ini saya sudah beli banyak sekali buku. Nanti deh menunggu gajian haha sekalian beli IEP juga supaya tuntas baca seriesnya. Sungguh perlu delayed gratification xixi supaya buku-buku yang sudah dibeli dibaca dulu satu per satu. 

Reviu bukunya masing-masing mau dibuat terpisah. Nanti ku akan edit lagi postingan ini supaya bisa menautkan tautan ke masing-masing reviunya! 

 


Tahun lalu saya membaca salah satu buku yang saya tunggu-tunggu sejak lama kehadirannya dalam Bahasa Indonesia. Franz Junghuhn Berkelana di Pulau Jawa, tulisan seorang Naturalis Jerman yang hidup di Indonesia pada masa kolonialisme. 

Saya mengenal Junghun lewat buku Naturalis Jerman di Tanah Priangan, terjemahan kepingan tulisan empat orang petualang dari Jerman yang sempat datang atau tinggal di Indonesia. Buku tersebut diterjemahkan oleh Malik Ar Rahiem. Buku ini, Frans Junghuhn Berkelana di Pulau Jawa pun diterjemahkan oleh Kang Malik. 

Buku ini cukup tebal, tapi saya menikmati sekali baca buku ini karena berasa diajak jalan-jalan keliling daerah dan pegunungan di Jawa ketika membaca halaman demi halaman di buku ini. 

Saya tidak akan bikin reviu panjang di postingan ini karenaaaa, saya justru mau membagikan pengalaman baca saya dalam format lain. 




Saya mencatat pengalaman baca kemarin di Goodnotes dan rasanya cakep juga kalau di PDF-kan supaya bisa dibaca teman-teman yang mau akses. Catatan baca ini sempat saya cetak terbatas untuk peserta Ngobrol Buku #2 di Imakata. Kalau kamu tertarik, kamu bisa unduh di sini ya: 

Kalau kamu tertarik untuk membeli buku-buku dari Project Junghuhn, kamu juga bisa kontak ke Admin Imakata untuk mendapatkan informasi harga dan ketersediaan buku. 

Sudah lama sekali tidak update apapun di blog ini :) Postingan terakhir saya di bulan Juli 2025. Sebulan sebelum saya memutuskan untuk kembali bekerja (yuhu kembali menjadi working mama). Ada banyak hal juga yang terjadi sepanjang Agustus - September - Oktober 2025. 

Salah satu yang major selain bekerja: Saya dan Mas Har membuka toko buku dan perpustakaan Independen. Rasanya harus bikin postingan terpisah buat cerita tentang ini. Nantiii yaa. 

Hari ini mau balik lagi ke blog buat update kehidupan yang rasanya melelahkan sekali. Tapi terus ketika sedang lelah banget, saya baca beberapa postingan di Instagram yang intinya kurang lebih begini: 

What a privilege to be tired from the work you once beg the universe for.
What a privilege to be tired by a challenge by a life you created on purpose.

Rasanya mau nangis banget membaca (+ mendengarkan ini), karena bagaimanapun juga kehidupan yang saya jalani sekarang adalah kehidupan yang dulu sekali pernah saya idam-idamkan. Untuk bisa bekerja tapi tetap dekat sama anak-anak, untuk bisa mengelola perpustakaan dan buka toko buku, untuk bisa sesekali ambil jeda, mengurus tanaman dan bunga-bunga, bisa jajan kopi tanpa khawatir besok harus makan bagaimana atau uang SPP anak-anak, juga bisa meluangkan waktu untuk membaca dan jurnaling di malam hari, atau sesekali menulis seperti ini. 

Kalau refleksi lagi, hidup saya tuh saat ini sudah sangat dimudahkan sama Allah dan saya benar-benar merasa jadi mahluk yang kurang bersyukur. Ini juga bukan usaha menapikan dan menepikan kelelahan yang memang saya alami, lelah fisik, lelah mental, lelah karena mental load sebagai orang tua dengan dua anak yang gak ada habisnya. Tapi tetap sajaa, rasanya pada satu titik seperti ini, saya harusnya banyak-banyak bersyukur. 





Kumpulan cerpen kedua yang saya selesaikan di Juni setelah Bakat Menggonggong. 

Saya baca kumpulan cerpen ini karena dua alasan: Pertama sudah punya bukunya di rumah, buku ini masuk ke rombongan buku yang dengan kalap saya beli di Juni, setelah puasa jajan buku lumayan lama. Kedua, pekan lalu saya harus mengurus sesuatu di bank, tahu sendiri kan urusan di bank kadang antrinya lama dan saya menghindari main HP buat doom scrolling di Bank, jadinya saya bawa buku paling tipis dengan harapan bisa langsung selesai baca. Kenyataannya gak langsung selesai juga sih, hehe. Tapi ya tetap cepat selesai dibaca karena buat saya yang sering kesulitan membaca cerpen, buku ini menarik, punya ciri khas cerpen yang pendek tapi membekas, tapi menariknya punya keterhubungan antar beberapa ceritanya. 

Bukunya tipis sekali, hanya 82 halaman. Total ada 8 cerita (tidak termasuk prolog dan epilog). Seperti yang saya bilang tadi, beberapa cerita pendek yang saling berhubungan. Dua cerita yang membekas buat saya: Gembelengan dan Nay. Meskipun bahasanya ringan tapi gak tema yang diangkat sebetulnya sama sekali tidak ringan.

Cerita-cerita disini beberapa diambil pakai PoV anak-anak, ada juga yang dewasa. Jumlahnya seimbang masing-masing 4 cerita. PoV anak-anaknya lumayan seru, macam cerita petualangan. Cerita dengan sudut pandang anak ada Pengutil, Non Fiksi, Nay dan Planetarium. Sisanya ditulis dengan sudut pandang orang dewasa.

Saya suka cara penulis mencoba menghubungkan beberapa cerita pendek menjadi saling berkaitan dalam satu buku tipis ini. Secara keseluruhan ceritanya menarik. Menarik buat dibaca sekali dua kali duduk bisa langsung selesai.


Minusnya satu: Sudut pandang anak di buku ini ada beberapa yang rasanya gak natural.

Di Cerpen berjudul Planetarium misalnya. Kalimat “Aku juga bakal suka baca buku selain buku pelajaran kalau punya buku kaya gitu, Ndra. Sayangnya di rumah cuma ada koran lampu merah” terasa agak aneh keluar dari mulut anak SD kelas besar sekalipun. Ucapannya terlalu dewasa, terutama karena ada kesadaran soal jenis bacaan dan kondisi rumah yang biasanya belum terlalu dipikirkan anak-anak seusia itu. 

Kalau dilihat dari teori perkembangan, anak usia segitu masih lebih fokus pada hal-hal yang langsung mereka alami, bukan menyimpulkan hal-hal abstrak seperti kritik terhadap akses literasi. Karena itu, ucapan Har terasa lebih seperti suara orang dewasa yang sedang berbicara lewat karakter anak, bukan suara anak itu sendiri. Seperti ingin menyampaikan pesan sosial, tapi sayangnya jadi kurang masuk di bagian PoV anak ini.

Bukan tanpa alasan saya merasa hal tersebut janggal. Sebabnya tentu saja karena saya juga pernah menjadi Har kecil. Waktu saya kecil dulu, buku bacaan jadi sesuatu yang asing buat saya. Bagi keluarga kami, buku adalah barang mewah yang rasanya tak mungkin dimiliki kecuali ada yang memberi, atau beli di toko loak depan wihara dekat pasar. Itupun majalah bobo bekas, bukan buku bacaan nonteks lain yang lebih tebal dan berisi. 

Apakah saya ingin punya banyak buku dan menjadi seperti Nay? Oh tentu. 
Apakah saya akan berbicara seperti Har? Sepertinya tidak. 

Karena saya tidak bisa membandingkan seperti Har. Respon saya sebagai anak kecil di kampung ya hanya bisa bilang "wah keren ya" tapi lalu lanjut bermain. Tanpa bukupun saya masih bisa main seru (ini cara penghiburan paling mudah kala itu, ketimbang minta belikan buku ke Ibu). Siapa yang bisa membandingkan? Saya yang sudah dewasa, yang sudah paham kalau pengalaman masa kecil anak-anak beda-beda.

Kalau pengalaman saya sendiri dianggap terlalu bias, beberapa tahun ke belakang saya punya pengalaman mengajar anak-anak baik di SD Negeri maupun SD Swasta. Kondisi ekonominya berbeda, tapi percayalah, anak-anak SD itu lebih 'bodo amat' dan cuek dengan kondisi yang mereka tidak bisa capai. Mereka tentu kenal juga rasa iri, tapi ini akan mereka alihkan dengan hal yang mereka punya. Lihat teman punya banyak buku? yang iri dan merasa lebih hebat akan pamer mainannya yang juga banyak. Sebagian akan bodo amat, sebagian lagi akan memuji atau mungkin mencoba meminjam buku-bukunya. 

Hal serupa juga saya temukan di cerpen Nay yang di salah satu cerita dalam ceritanya, ada tokoh Ris, yang digambarkan sebagai anak yang sedang ‘bertualang’ dengan Ben dan Jep mengintip rumah Bik Meriam. Namun alih-alih petualangan seru, keluar dari pengintaian, Ris justru keluar dengan bersikap lebih dewasa dari anak seusianya, yg karena melihat sesuatu yang tak boleh ia lihat, malah keluar mengajak semua pergi, dan meminta Ben untuk tidak terlalu mempercayai apa yang dikatakan ayahnya. 

Sayang banget, padahal selain poin anak-anak yang terlalu dewasa cara bicara dan berpikirnya ini, sisanya saya suka. Kan anak-anak di kampung yang hidup dalam kemiskinan juga tetap anak-anak hehe gak ujug ujug semua jadi 10 tahun lebih tua usia mentalnya.

Saya gak terlalu paham apakah catatan saya jadi valid atau gak kalau bukunya tidak diberikan label anak, seperti buku Na Willa misalnya, tapi saya rasa ketika ada sudut pandang anak yang dimasukkan dalam cerita, maka penulis perlu menjadi anak tersebut agar ceritanya semakin natural. 

Tapi terlepas dari catatan saya tentang sudut pandang anak, bukunya tetap layak buat dibaca! coba baca yak kalau punya bukunya atau nemu bukunya. Siapa tahu pengalaman membaca kamu berbeda dengan saya. 




Informasi buku:
Judul: Parasit dan Cerita-Cerita Lain dari Kampung Bantaran Kenangan
Penulis: Aris Rahman P. Putra, 2024
Editor: Felix K. Nesi
Cetakan pertama, Agustus 2024
vi + 83 halaman, 12 x 19 cm
ISBN: 978-602-0788-59-3
Penerbit: Marjin Kiri



Empat tahun lalu selepas melahirkan Rana, saya kehilangan hasrat untuk menyentuh alat gambar dan alat lukis saya. Jadinya salah satu aktivitas post partum yang saya nikmati adalah membaca. Tapi ternyata sekarang setelah melahirkan Ayu, saya gak terlalu lama kehilangan hasrat tersebut. Setelah Ayu berusia sebulan dan saya sudah mulai ajeg buat beraktivitas, saya ingin segera gambar-gambar. Tapi ternyata ya gambar-gambar ketika punya newborn susah betul haha. Baru buka cat air, anak menangis minta susu, atau baru kepikiran mau gambar apa, kakaknya mengajak main. Hehe, memang sepertinya aktivitas ini lebih cocok kalau anak-anak besaran dikit. Tapi saya tetap ingin gegambaran, alhasil supaya lebih satset, biasanya saya pakai pensil warna saja. Kadang gambar-gambar di jurnal, kecil saja, sehingga tidak lama tapi tetap bikin happy. Atau ya gambarnya tidak harus langsung selesai. 


Selain gambar di jurnal, saya juga masih gambar-gambar di pocket sketchbook saya. Karena ukurannya kecil 12 x 12 cm saja. Kalau buka-buka kertas lain, masih agak rempong yha. Di sketchbook kecil saya ini, saya sedang coba-coba menyalin gambar-gambar botani, tentunya kualitas gambarnya jauh berbeda hehe, tapi seru juga sambil belajar ilmu botaninya sedikit-sedikit. 

Buat sekarang, gambar-gambarnya segitu aja dulu, semoga nanti bisa lebih banyak lagi gambar-gambar seiring waktu. Tapi poinnya juga salah sih ya kalau mau lebih banyak haha, semoga kedepannya lebih menikmati gambarnya, mau banyak mau sedikit. 


Sekarang kan saya gambar masih betul-betul semaunya sendiri. Gak punya ciri khas, gak tau mau mendalami gambar yang mana. Dulu sempat ingin belajar gambar ilustrasi anak, seiring waktu mau gambar-gambar landscape mix media saja di sketchbook, tapi juga ingin belajar botani. Tahun depan sepertinya saya ingin benar-benar belajar dengan serius, dalam artian ikut kelas atau ikut komunitas gambar untuk coba-coba dulu aja. Tujuannya memang untuk mengisi waktu dengan hal yang saya senangi. Karyanya jadi bonus. Kenapa tahun depan? Nunggu Ayu MPASI biar gak galau kalau ditinggal kelamaan hehe. 


Sekian dulu curhat curhat dan update gambar-gambar bulan Juni! Semoga Juli gak kelewat buat update lagi di blog. 











Di Kampung Merdeka, tak ada satu orang pun yang suka mengajukan diri menjadi Ketua RT. Menjadi ketua kampung tak semudah dan seindah yang dibayangkan. Amanah yang diemban pun tidak ringan. Ketua kampung harus rela berkorban waktu, uang, dan tenaga. Dan itu b-e-r-a-t. Tidak semua orang sanggut. Kecuali orang yang haus jabatan, sejujurnya tak ada yang mau dipilih.

Apa hebatnya jadi ketua RT? itu bukan jabatan yang bergengsi. herannya, Bu As menginginkannya dan menikamtinya. Menjadi Ketua PKK adalah jabatan strategis, ajang untuk tampil. Bu As menikmati peran menjadi ibu nomor satu di kampung.

Lauk Daun - Hartari, halaman 23

Sudah lama saya tidak tertawa lepas dan gemas-gemas sebal ketika membaca sebuah buku. Beberapa waktu belakangan memang bacaan saya sedang dipenuhi karya-karya yang cenderung ‘berat’, entah isinya memang berat seperti Metode Jakarta, atau berat betul bukunya seperti karya Junghuhn yang juga sangat tebal dan isinya lebih ke bikin senyum dan takjub ketimbang ketawa. Selingannya, buku-buku Agatha Christie yang saya baca tiap bulan untuk ikut Tantangan Bacanya juga jauh dari kata lucu. Jadi ketika bertemu buku Lauk Daun (thanks to @awaywithbooks) saya senang sekali karena akhirnya bisa tertawa ditengah bacaan yang serius.

Saya agak menebak-nebak dari kaver bukunya, saya kira ini tentang makanan pendamping nasi berupa dedaunan; atau yang biasa kita sebut sayur. Tapi nyatanya jauh betul dari prediksi saya, dan justru judul buku ini lah yang bikin saya tertawa tak henti-henti.

Membaca Lauk Daun (1)

Lauk Daun bercerita tentang dinamika hidup di kampung Merdeka, sebuah kampung di tengah kota yang sangat mirip dengan kampung-kampung pada umumnya. Penghuninya beragam, status sosial ekonominya beragam, pekerjaannya pun beragam. Penulis membuka buku ini dengan kerusuhan di grup WhatsApp (WA)! (beneran mirip komplek atau RT kamu gak tuh ada grup WAnya!). Warga di grup WA ini sedang berunding tentang pandemi yang datang dan apakah perlu kampung mereka melakukan Lockdown.

Diskusi di grup ini tentu saja seru betul, ada yang setuju, ada yang tidak, ada yang vokal berbicara (baca: mengirim dan membalas pesan), ada juga yang menjadi silent reader saja. Ya rupanya ini memang sehari-hari terjadi di Kampung Merdeka. Bukan hanya ketika pandemi saja.

Diskusi tersebut menjadi pengantar menuju cerita selanjutnya: asal usul kampung merdeka, dari penamaannya sampai sejarah kepala kampungnya. Fokus cerita Lauk Daun memang berpusat pada kepala kampungnya. Mulai dari masa Pak Aripin, Pak Amar hingga Pak Asikin dan istrinya Bu Asikin (yang lebih dikenal dengan sebutan Bu As) yang menjadi pemimpin Kampung Merdeka. Meskipun Pak Asikin, seperti bapak-bapak pada umumnya, tidak terlalu heboh dan ingin biasa saja dalam memimpin Kampung Merdeka, tapi Bu As ternyata punya misi lain: Ia ingin menjadi Ibu kepala kampung dan kepemimpinannya membekas dan berprestasi, sehingga dimulailah dramanya disini. Kenapa drama? karena Bu As sebetulnya bukan sosok yang dekat dengan masyarakat, ia bahkan tidak mengenal semua orang di Kampung Merdeka meskipun sudah tinggal di sana.

Dinamika Warga Kampung Kota

Ketika membaca buku ini, saya jadi ingat kampung Ibu saya. Yap, Ibu saya, bukan saya. Kebetulan saya belum memiliki rumah tetap alias masih mengontrak dan mencari rumah yang pas dari waktu ke waktu, alhasil tak banyak bisa bersosialisasi dengan warga setempat, tapi Ibu saya, yang rumahnya tetap di satu kampung, dan saya yang juga menyicip hidup sebagai warga kampung yang sama selama beberapa waktu yang sama, paham betul dinamika yang terjadi di Lauk Daun ya memang ada di kehidupan warga.

Bedanya, saya tidak pernah menemukan kombinasi Ibu-ibu menyebalkan yang kemudian diberikan kesempatan untuk mengecap kekuasaan. Alias biasanya yang jadi Pak RT dan Bu RT ya baik-baik saja, yang nyebelin ada tapi karena sudah terkenal menyebalkan ya tidak mungkin dipercaya jadi RT hehe.

Tokoh utama dalam buku ini, Bu As jadi kombinasi menyebalkan ketika misalnya ia ingin warga kampungnya mengikuti lomba kampung hijau dan semuanya harus memiliki pohon cabai, jika tidak akan di denda, tapi disisi lain Bu As adalah pedagang tanaman, warga yang tak sempat menanam mau tak mau harus membeli tanaman kepadanya. Ia juga jadi kombinasi menyebalkan ketika sudah tidak menjabat sebagai Bu RT namun masih mengatur-ngatur Bu RT yang baru, atau ketika ia memaksakan semua warga untuk berolahraga, atau sok tau tentang acara kampung, sok asik pula.

Bu As jadi super duper menyebalkan dan membuat kita gemas ketika membaca tingkahnya. Sementara itu seperti halnya dinamika di kampung, bapak-bapak kecil sekali perannya di sini (di sini: di drama dan pergosipan kampung). Seperti halnya di kampung-kampung kebanyakan: Ibu Ibu lah pemegang kekuasaan sebenarnya. Alias kalau Ibu-ibu gak mau kerja ya sepi juga kampungnya.

Selain kelakuan Bu As, kita juga akan menemukan sosok Yayuk yang tak kalah dominan. Yayuk jadi stereotipe perempuan yang juga sering digosipkan tetangganya seperti Bu As, bedanya Yayuk digosipkan karena kisah asmaranya. Suka gonta ganti pacar, hamil duluan sebelum menikah, hingga batal kawin siri karena calon suaminya dijemput istri sah, tak kurang kurang ia juga tipe warga yang senang ribut dengan tetangga lainnya.

Bu As, Yayuk dan warga lain di buku ini rasanya begitu dekat dengan saya yang selama ini hanya jadi silent reader saja di kampung.

Kenapa tertawa lepas sekaligus gemas?

Mungkin tidak sepenuhnya tepat kalau sepanjang buku, saya hanya tertawa-tawa saja. Lebih tepatnya terhibur ya. Melihat tingkah Ibu-Ibu dan Bapak Bapak Kampung Merdeka rasanya seperti sedang menonton sitkom, walaupun tidak ada punch line di setiap bab. Hanya beberapa bab saja yang memberikan punch line tersebut. Tapi karena temanya begitu dekat, yaa hiburannya makin terasa.

Emosi lain yang muncul justru gemas dengan tingkah Bu As dan Yayuk, tapi tahu tidak kawan? Sering kali kita memang tidak bisa berbuat banyak jika kita berada di posisi warga Kampung Merdeka yang ada dibawah ‘jajahan’ Bu As. Kenapa? karena tidak banyak dari kita yang mau ambil bagian atau repot-repot menjadi Ibu PKK seperti Bu As. Tidak ada juga bapak-bapak yang mau repot-repot jadi ketua RT. Seperti halnya di Kampung Merdeka, kebanyakan jabatan RT RW di tempat kita ya karena tidak ada yang lain yang mau saja hehe, dan ini ya memang relatable dengan warga kampung kota. Karena kalau di desa, jabatan Kepala Desa justru jadi rebutan dan pertarungan yang sering kali berdarah atau bisa memutus tali silaturahmi antar saudara sendiri; karena di desa ada Dana Desa yang jumlahnya tidak sedikit :’) sementara di Kota kan tidak ada.

Jadinya yaa gemas-gemas tapi tidak bisa melakukan hal lain juga, ujung-ujungnya: gosip dan ngomongin di belakang. Persis betul warga Kampung Merdeka.

Membaca Lauk Daun (2)

Saya membaca buku ini tidak sekali duduk, tapi dua kali duduk. Tetap bisa cepat diselesaikan karena bukunya tipis, masuk ke kategori novella ketimbang novel. Bahasanya tidak berat, tidak ada plot twist yang terlalu bikin hah heh hoh dan saya suka betul tema kehidupan sehari-hari yang diambil di sini. Senang sekali ada novella ringan yang mendapat predikat “Naskah yang menarik perhatian juri” pada Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2021; rasanya bisa juga ya sastra dekat dengan saya, sastra dekat dengan masyarakat biasa. Bisa dikunyah dengan mudah tanpa harus berkerut memikirkan maknanya.

Kalau kamu suka cerita slice of life, mau melihat dinamika kampung dalam bentuk tulisan, kamu bertemu Bu As dan sebal-sebal sendiri dibuatnya, sedang mencari bacaan ringan tapi bermakna untuk keluar dari reading slump, coba baca buku ini deh! seru!



Malamnya, aku mengajak bicara Jay Catsby—Kucing yang sering datang ke kamar kosku—sampai kami berdua tertidur. Kuceritakan padanya tentang Penyair K, tentang si kecu Alif Sudarso, tentang Ibuku, tentang Sekar, tentang kalimat “Dari sekian banyak cara untuk mati, yang terburuk adalah melanjutkan hidup” yang tertera di nisan sesuai permintaan Pat. --Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu - Dea Anugrah

Membaca Bakat Menggonggong (1)

Ketika tahu kalau buku Bakat Menggonggong di cetak ulang, saya tidak heboh bersemangat hendak segera membeli dan membaca buku ini walaupun saya sangat menikmati membaca esai-esai Dea yang sudah saya baca beberapa tahun lalu dan begitu membekas buat saya. Alasannya sederhana: saya tak begitu mahir membaca cerita pendek. Beberapa kali mencoba membaca cerita pendek, saya sering bingung dengan maknanya, atau sering kecewa karena ceritanya begitu pendek (padahal ya namanya juga cerita pendek), tapi lebih sering alasan pertama sebetulnya. Karena itu saya menunda membeli langsung buku ini. Tapi seorang kawan mengirim saya pesan pendek, “coba baca, As! kayanya kamu akan suka”.

Jadilah saya membeli buku ini, berbarengan dengan sepaket buku-buku lain yang saya beli di bulan Juni. Bulan kesurupan karena saya habis menjual beberapa koleksi buku dan uangnya saya pakai lagi untuk membeli buku-buku baru. Lalu membaca cerita pertamanya, saya lanjutkan ke cerita kedua, ketiga, eh kok tidak serumit yang saya biasanya temukan ketika membaca cerita-cerita pendek lainnya. Saya juga merasa cara Dea ‘bercerita’ di buku ini sangat mirip dengan caranya bercerita di dua buku kumpulan esainya yang sudah saya baca.

Diskusi Buku Bakat Menggonggong

Tidak berapa lama, saya dapat info kalau Dea akan mampir ke Bandung untuk tur buku ini, di TB Pelagia tempatnya. Saya tentu saja sangat ingin datang, tapi sebagai seorang ibu dua anak, satunya toddler, satunya belum genap dua bulan, ikut acara-acara di tempat terbuka seperti ini sangat bergantung pada mood anak-anak, energi saya hari ini—apakah masih tersisa atau tidak— dan kesediaan Bapak Hari untuk mengantar istrinya ke Bandung. Beruntungnya hari itu ketiga prasyaratnya terceklis, sehingga saya bisa ikut acara diskusi bukunya.

Lewat acara ini, saya jadi bisa dengar langsung terkait proses kreatif Dea dalam menulis, termasuk bagaimana tulisan fiksi dan nonfiksi Dea memang tidak jauh berbeda karena menggunakan cara bercerita yang sama, “Bedanya kalau esai ya harus benar info dan apa yang dibahas, tapi seharusnya pendekatan penulisan tidak mengkotak-kotakkan genre tulisan” katanya.

Dea juga berbagi tentang Fabulasi, yang ia gunakan dalam menulis beberapa cerita pendek di buku ini, ini yang menarik buat saya yang tidak pernah menulis fiksi, fabulasi ini teknik dimana penulis memasukkan beberapa cerita atau fakta yang benar adanya, sehingga pembaca penasaran “ini ceritanya beneran atau tidak ya?”. Saya lalu jadi ngeh, oh ini ya cara bercerita di Raden Mandasia di Pencuri Daging Sapi, yang sesudahnya membuat saya benar-benar cek mana yang benar mana yang karangan penulis. Di kumpulan cerpen ini, salah satu cerita yang menggunakan teknik ini adalah Kisah Afonso.

Bagaimana Dea menulis

Karena sudah datang langsung bertemu penulis yang bukunya sangat saya nikmati, tidak lengkap rasanya kalau tidak menyampaikan langsung bagaimana tulisan-tulisan Dea di dua kumpulan esainya: Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya dan Kenapa Kita Tidak Berdansa sangat berarti buat saya karena membuka jalan saya untuk berkenalan dengan buku-buku lain. Mulai dari Pulang karya Leila Chudori, Tempat Terindah di Dunia karya antropolog Roanne van Voorst, karya-karya Gabo (yang tentu saja belum saya baca semuanya, sampai The Makioka Sisters.

Selain apresiasi tersebut, saya tentu penasaran, bagaimana bisa menulis esai yang sangat baik seperti yang beliau tulis.

Menurut Dea, salah satu alasannya karena sebagai jurnalis, ia bukan tipe jurnalis yang bisa siap bangun pagi-pagi untuk mengejar narasumber, ia tipe jurnalis yang lebih ‘santai’ dan diakomodasi oleh pemred saat itu untuk menulis cerita yang sesuai dengan gayanya, jadilah ia yang harus menyesuaikan bagaimana caranya menulis cerita-cerita yang terlihat sederhana dari sudut pandang yang berbeda. Salah satu yang dikenangnya adalah saat ditugaskan di pulau tanpa penduduk saat Tahun baru, yang tidak memiliki nilai historis apapun atau tidak memiliki cerita unik apapun.

Kemampuan menuliskan cerita sederhana dari sudut pandang yang berbeda, ditambah lingkungan yang mengakomodasi dirinya menuliskan dengan gayanya alih-alih menjadikannya jurnalis yang harus bangun pagi untuk mengejar narasumber tadi, jadi kombinasi yang membentuk esai-esai Dea yang ciamik.

Ikut langsung diskusi buku kemarin rasanya sangat menyenangkan. Banyak sekali hadirin yang juga meramaikan diskusinya, ada yang pembaca seperti saya, ada juga jurnalis dan penulis, tidak hanya mendengar tentang teknis menulis, tapi juga pandangan Dea tentang bagaimana seharusnya ‘Sastra jangan terlalu banyak bicara’, mengkritisi Seno Gumira Ajimara yang bilang Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.

Sastra jangan terlalu banyak bicara, karena kalau menggantikan jurnalisme, jadi seperti berita. Jurnalisme harus berisik, sastra sebaliknya. Sastra tujuannya mengganggu pikiran orang, membuat orang-orang memikirkan lagi apa yang mungkin tidak dipikirkan, tidak seharusnya berkhutbah, itu tugas jurnalisme.

Membaca Bakat Menggonggong (2)

Saya baru bisa menuliskan pengalaman saya mengikuti diskusi buku kemarin setelah saya akhirnya menamatkan membaca Bakat Menggonggong. Saya masih tetap berpendapat membaca cerpen itu susah, bahkan ketika narasinya mengalir dan enak untuk dibaca seperti cerpen-cerpen Dea, ada beberapa cerpen yang harus saya baca berulang untuk benar-benar memahami maksud tulisannya. Sejujurnya beberapa cerpen tidak pusing-pusing saya cari maksudnya apa, tapi ya beberapa cerita betul-betul membekas.

Cerita favorit saya di buku ini adalah cerita yang saya kutip diatas. Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu. Saya suka sosok jurnalis dalam buku ini menjadi teman bercerita sosok Pat yang antisosial tapi menjadi banyak bicara ketika bertemu dengannya. Cerita lain yang membekas: Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu. dan Omong Kosong yang Harus Ada. Oh ini membekas sekali karena sempat dibahas sekilas di diskusi buku kemarin, tentang bagaimana sepinya menjadi seorang caregiver dan secara personal juga sedih sekali membaca kisah Ibu dalam cerita ini, yang begitu hebat lalu habis betul ketika disakiti seorang lelaki.

Buat yang tidak jago membaca cerpen, saya menikmati membaca kumpulan cerpen ini, kocaknya ada, pesimismenya terasa, kocak-kocaknya juga ada, tapi memang yang paling menyenangkan tetap bagaimana cara naratornya bercerita. Seabsurd apapun ceritanya, saya merasa seperti sedang membaca dongeng yang bagus.



Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

POPULAR POSTS

  • Main ke Toko Buku Pelagia (@tb.pelagia) Bandung
  • Review Asri: Masquerade Hotel karya Keigo Higashino
  • Review Asri: As Long As The Lemon Trees Grow karya Zoulfa Katouh
  • Saya dan Derai Derai Cemara
  • Review Asri: Teruslah Bodoh Jangan Pintar - Tere Liye
  • Review Buku Angsa dan Kelelawar karya Keigo Higashino
  • Review Asri - Tempat Terbaik di Dunia karya Roanne Van Voorst
  • Pekan Kedua Mengurangi Waktu di Media Sosial
  • Sabtu yang Menyenangkan dan kenapa saya suka membeli bunga
  • Review Asri: Pengantin-pengantin Loki Tua karya Yusi Avianto Pareanom

Arsip Blog

  • ▼  2026 (9)
    • ▼  April 2026 (4)
      • Commuting Commuting Commuting
      • Sebuah Pekan yang Meriah (Padahal baru Kamis)
      • Bacaan Akhir Pekan dan Rencana Baca Pekan Depan
      • Pekan Kedua Mengurangi Waktu di Media Sosial
    • ►  Maret 2026 (3)
    • ►  Februari 2026 (2)
  • ►  2025 (25)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  Juli 2025 (2)
    • ►  Juni 2025 (4)
    • ►  Mei 2025 (5)
    • ►  April 2025 (2)
    • ►  Maret 2025 (2)
    • ►  Februari 2025 (3)
    • ►  Januari 2025 (6)
  • ►  2024 (8)
    • ►  November 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (1)
    • ►  Juni 2024 (1)
    • ►  Mei 2024 (2)
    • ►  April 2024 (3)
  • ►  2023 (17)
    • ►  November 2023 (1)
    • ►  September 2023 (1)
    • ►  Juli 2023 (4)
    • ►  Juni 2023 (4)
    • ►  Maret 2023 (2)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (3)
  • ►  2022 (52)
    • ►  Oktober 2022 (2)
    • ►  September 2022 (12)
    • ►  Agustus 2022 (2)
    • ►  Juli 2022 (2)
    • ►  Juni 2022 (4)
    • ►  Mei 2022 (9)
    • ►  April 2022 (7)
    • ►  Maret 2022 (5)
    • ►  Februari 2022 (6)
    • ►  Januari 2022 (3)
  • ►  2021 (35)
    • ►  Desember 2021 (5)
    • ►  November 2021 (1)
    • ►  Oktober 2021 (1)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  Agustus 2021 (3)
    • ►  Juli 2021 (2)
    • ►  Juni 2021 (1)
    • ►  Mei 2021 (3)
    • ►  April 2021 (1)
    • ►  Maret 2021 (2)
    • ►  Februari 2021 (6)
    • ►  Januari 2021 (6)
  • ►  2020 (13)
    • ►  Desember 2020 (3)
    • ►  Agustus 2020 (4)
    • ►  Juni 2020 (3)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
    • ►  Februari 2020 (1)
  • ►  2019 (14)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  Oktober 2019 (1)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  Agustus 2019 (2)
    • ►  Juli 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (3)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (2)
  • ►  2018 (15)
    • ►  Desember 2018 (4)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Juli 2018 (1)
    • ►  Juni 2018 (1)
    • ►  Mei 2018 (3)
    • ►  Maret 2018 (3)
    • ►  Januari 2018 (2)
  • ►  2017 (20)
    • ►  November 2017 (2)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  Agustus 2017 (4)
    • ►  Juli 2017 (4)
    • ►  Mei 2017 (3)
    • ►  Januari 2017 (2)
  • ►  2016 (65)
    • ►  Desember 2016 (2)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (3)
    • ►  Juli 2016 (17)
    • ►  Juni 2016 (7)
    • ►  Mei 2016 (7)
    • ►  April 2016 (25)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (29)
    • ►  Desember 2015 (3)
    • ►  September 2015 (2)
    • ►  Agustus 2015 (13)
    • ►  Juli 2015 (4)
    • ►  Juni 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (2)
    • ►  Februari 2015 (1)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (29)
    • ►  Desember 2014 (8)
    • ►  November 2014 (6)
    • ►  Oktober 2014 (2)
    • ►  September 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (3)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Februari 2014 (6)
  • ►  2013 (66)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  Oktober 2013 (7)
    • ►  September 2013 (7)
    • ►  Agustus 2013 (15)
    • ►  Juli 2013 (4)
    • ►  Juni 2013 (8)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (5)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (9)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (4)
    • ►  Oktober 2012 (2)
  • ►  2011 (8)
    • ►  Oktober 2011 (4)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  Maret 2011 (3)

Goodreads

Asri's books

Kejutan Kungkang
it was amazing
Kejutan Kungkang
by Andina Subarja
The Fine Print
liked it
The Fine Print
by Lauren Asher
Under One Roof
liked it
Under One Roof
by Ali Hazelwood
Lessons from Surah Yusuf
it was amazing
Lessons from Surah Yusuf
by Abu Ammaar Yasir Qadhi
Setelah membaca ini sampai selesai malam ini. Jadi paham kenapa Allah bilang kalau Kisah Yusuf ini salah satu kisah terbaik dalam Quran. Ada terlalu banyak pelajaran berharga dari kisah Yusuf. Dr. Yasir Qadhi mengawali buku ini dg sebab...
No Exit
liked it
No Exit
by Taylor Adams

goodreads.com

Cari Blog Ini

Kamu pengunjung ke

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Journal Asri. Designed by OddThemes