Tak Ada Ibu yang Sempurna


Semalam saya membaca salah satu bab di buku Bringin Up Bebe karya Pamela Druckerman. Judul bab tersebut adalah "Tidak Ada Ibu yang Sempurna", saya senang sekali dengan pembahasan didalam bab ini karena hari-hari kebelakang, rasanya saya sedang banyak mempertanyakan kemampuan saya sebagai seorang Ibu. "Am I a good mother?", " Am I enough for my daughter?". 

Sedikit pengantar, buku Bringing Up Bebe ini ditulis dari perspektif Pamela, seorang jurnalis dan penulis yang tinggal di Paris. Ia besar dan tumbuh di Amerika Serikat, jadi ketika punya anak di Prancis, ia membandingkan gaya parenting Ibu-Ibu di Perancis yang menurutnya, lebih damai

Sejujurnya saya pernah membaca buku ini sebelum melahirkan Rana, tapi mungkin agak kurang relatable karena waktu itu anak saya belum lahir. Saya gak tau bagaimana melelahkannya peran seorang ibu. Physically, emotionally, financially! Ha!

Loh, memang selama ini gak tau kalau memang gak ada Ibu yang Sempurna?

Saya suka sekali membaca buku ini, dan bab ini karena personally, setelah membaca buku tersebut, saya jadi tidak terlalu merasa bersalah. Selama ini tentu saja saya tahu kalau gak ada namanya Ibu yang sempurna, gak ada yang namanya manusia yang sempurna, semua punya kekurangan, semua punya kelebihan, and that what makes us human. 

Lalu apa yang membuat saya merasa lebih baik setelah membaca buku ini? 

The fact that we know we ain't perfect but we let it go, we don't let ourself feeling guilty for too long. The fact that we could still fight for our dreams, we could be a working mother and that did not makes us less mother that others. 

Kalau lihat dari alasan saya, bisa dilihat kalau saya punya insecurity yang cukup besar terkait peran saya sebagai Ibu yang juga bekerja ya, dan memang benar kok. Hehe. Bagaimanapun juga, orang-orang disekitar saya, bahkan banyak teman-teman saya yang berpendidikan tinggi, memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus pada keluarga. Fokus pada anak-anak mereka. Apakah saya iri atu menginginkan kondisi tersebut?

Sama sekali tidak, mungkin justru hal tersebut yang membuat saya kadang merasa bersalah. Sama sekali tidak pernah terbersit dalam pikiran saya untuk berhenti berkerja, berkarya, bahkan ketika saya memiliki anak. 

Saya suka bekerja, saya suka berkarya, saya senang membuat hidup saya berdampak untuk banyak orang, saya juga sangat suka bisa menghasilkan uang sendiri, tidak bergantung pada suami. Saya punya kepuasan sendiri setiap bulannya bisa menerima penghasilan yang memang layak saya dapatkan, memutuskan untuk memasukkan uang tersebut pada pos tabungan tertentu, bisa belanja buku atau barang-barang tersier lainnya yang mungkin akan sungkan saya minta pada suami jika saya tidak bekerja. 

Meskipun saya sangat suka bekerja, saya sendiri bukan tipe pekerja yang bisa menghabiskan waktu melewati jam kerja, saya cukup strict pada jam kerja. Jam 9 - 6 adalah jam dimana saya masih oke untuk membuka email dan laptop untuk bekerja, tapi setelah itu, nope. Lingkungan tempat saya bekerja sekarang, juga lingkungan yang sangat mendukung seorang Ibu untuk bekerja. Alhamdulillah.

Makanya membaca buku Bringing Up Bebe ini, rasanya pas sekali dengan apa yang saya rasakan saat ini. Sekarang ini saya sedang membaca ulang bukunya, mungkin setelah selesai membaca saya akan menuliskan ulasan lengkapnya di postingan lain hehe. 

Untuk saat ini, saya baru ingin menuliskan catatan saya tentang satu bab itu saja. 

---

*Catatan: post ini dibuat tidak untuk mendiskreditkan pihak manapun, terutama Ibu yang memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga penuh waktu. Semua Ibu sama berharganya, bekerja ataupun tidak bekerja, di rumah ataupun di kantor. Peluk semangat untuk semua Ibu di seluruh dunia!

0 comments

leave yout comment here :)