[Review Asri] The Danish Way of Parenting












Halo teman-teman!
Beberapa hari lalu saya selesai membaca buku The Danish Way of Parenting: What The Happiest People in The World Know About Raising Confident, Capable Kids. 
Buku ini sesungguhnya sudah lama berseliweran di timeline haha, sepertinya teman-teman saya banyak yang baca, tapi saya baru sempat baca kemarin. Beli diskonan di google playbook.

Saya ga akan terlalu banyak ceritain kontennya yak, karena sudah ada di gambar-gambar diatas. Tapi mengapa saya memilih membaca buku parenting lagi (setelah sekian lama break dari baca buku-buku parenting) adalah pengantar buku ini yang amat menarik. 

Denmark selalu konsisten menjadi Negara yang warga negaranya paling bahagia di dunia. Entah urutan satu, dua, tiga, tapi tak pernah lepas dari lima besar ranking OECD. Bagaimana bisa ? Hmmm tentunya banyak faktor yang menentukan, tapi dua orang penulis buku ini punya perspektif yang sama kalau cara mereka membesarkan anak-anak disana, memainkan peranan penting sampai Denmark bisa konsisten jadi Negara dengan warga negara bahagia tadi. 

Oiya versi terjemahan Bahasa Indonesia buku ini diterbitkan oleh penerbit B First. Kalau boleh jujur, versi terjemahannya masih agak kaku, perlu dibaca berkali-kali untuk memahami maksudnya. Bagian satu buku ini, tentang bermain, saya baca keras-keras supaya Mas Har juga bisa dengar dan supaya mudah dipahami, saya baca dulu sendiri baru jelaskan pakai bahasa yang mudah dimengerti. Hehe. 
Habis versi Bahasa Inggrisnya lebih mahal hiks, jadi cari versi ekonomis. 

Terlepas dari terjemahannya yang kaku tadi, isinya lumayan bagus. Memberikan perspektif baru tentang pengasuhan, kalau saya impressed sekali sama penjelasan tentang bermain. Buku ini kasih banyak sekali riset dan bukti bagaimana bermain bisa membuat anak jadi lebih resilient ketika dewasa nanti. Anak-anak dengan jam bermain yang banyak ketika kecil, terbukti lebih less stress dibanding sama anak-anak yang jam bermainnya lebih sedikit. Ini penting sekali sih menurut saya haha. Sebagai orang yang masa kecilnya mainnya lebih banyak dari pada belajar akademisnya. Saya sepakat! hihi. 
Masa SD saya bisa dibilang kacau sekali. Ga pernah belajar dirumah, gak pernah kerjain PR, tinggal jauh dari orang tua, serumah sama Nenek yang ga bisa baca tulis, seeeepanjang SD saya habiskan untuk bermain. Jaman dulu masih ada ranking-ranking ya, ranking saya biasanya selalu masuk 10 besar .... dari bawah.

Waktu SMP semuanya berubah karena saya pindah ke Cimahi, ada om dan tante yang bisa bantu belajar matematika dan Bahasa Inggris. Bahasa Inggris saya yang tadinya 0 ga ngerti apa-apa sama sekali, perlahan mulai membaik. Bapak dan Ibu juga support beragam hal agar saya bisa belajar dengan baik. Kalau di tarik mundur, masa kecil yang penuh dengan bermain ya memang semenyenangkan itu. Tapi gak akan membuat kita ketinggalan jauh sama orang-orang yang terus menerus belajar. 

(ah kan jadi curhat)

Saya merekomendasikan teman-teman yang mau belajar parenting/ sedang cari referensi untuk baca-baca buku ini. Dan gak perlu terburu-buru. Pelan-pelan aja bacanya sambil refleksi ke diri sendiri. 
Asyiknya baca buku parenting gitu loh teman-teman, hihi setiap baca satu hal, kita akan refleksi ke bagaimana kita dibesarkan dulu dan memikirkan kedepannya kalau punya anak bisa benar-benar menerapkan ini gak hihi. 

Selamat membaca teman-teman!




0 comment

leave yout comment here :)