Review Asri - Buku Seribu Wajah Ayah karya Nurun Ala

 


Sebab ayahmu sudah berjanji untuk mencintaimu hingga akhir hayatnya. ia paham betul konsekuensi yang harus dihadapi sebagai seorang pecinta sejati. Pecinta sejati dituntut untuk memiliki ketulusan memberi tanpa harap kembali. Dan pecinta sejati harus  belajar untuk membebaskan-- merelakan orang-orang yang dicintainya melakukan kebaikan-kebaikan yang akan menumbuhkannya 
-- Hal. 42 - Seribu Wajah Ayah, Nurun Ala.

--
Blurb: 
Buku ini berkisah tentang seorang anak yang pulang kembali ke rumah setelah ayahnya meninggal. Ia kemudian diajak kembali ke masa lalu sejak ia lahir hingga saat ini melalui sebuah album yang berisi 10 foto kenangan-kenangan penting dirinya dan sang ayah.

Sebagai seorang anak yang sudah ditinggal Bapak lebih dulu menghadap Tuhan, berada diposisi yang sama dengan tokoh 'aku' di buku ini, yang juga tidak ada disamping ayahnya ketika berpulang, aku merasa sangat nyambung dengan si tokoh Aku. Makanya bab-bab awal betul-betul menguras emosiku. Aku sampai meneteskan air mata dan agak sesenggukan waktu tahu perjuangan awal ayahnya ini.

Sesuai jumlah foto dalam album tersebut, penulis membagi buku ini dalam 10 bab yang menjelaskan tentang foto-foto tersebut. Oh iya, akan ada ilustrasi yang menggambarkan beberapa foto di tiap babnya, dan ilustrasinya bagus sekali, membuat kita makin mudah memvisualisasikan isi buku. 

Ada yang menarik juga dibuku ini, hingga awal sampai akhir, si tokoh aku ini dibuat tak bernama bahkan tak ada juga keterangan gender si aku yang membuat kita sebagai pembaca baik laki-laki ataupun perempuan bisa tetap relate dengan isi buku. Aku suka sekali tokoh aku yg dibuat tanpa nama dan tanpa gender, jadinya berasa tokoh utamanya adalah aku sendiri. Ini beneran! Sebelum masuk baca konfliknya, aku bahkan membayangkan tokoh utamanya pas SD rambutnya dikucir dua. Tapi membaca 'petuah' sejak sang anak mulai jatuh cinta, cara anak & ayah ini berseteru juga, langsung bikin aku mikir, aduh ini mah konflik ayah & (biasanya) anak lelakinya hihi. (ini generalisasi tapi ya menurutku begitu).
--

📝 Aku cukup menikmati membaca buku ini tapi juga agak kurang nyaman dg kutipan-kutipan dari penulis, tokoh, nabi atau sahabat nabi, bahkan quran yg ada di buku ini. Jadinya menurutku agak ngagokin menikmati cerita yg udah dibangun dengan oke sama penulis. Padahal bisa banget diisi dengan pendalaman kejadian-kejadian yg bikin saya sebagai pembaca makin-makin merasakan penyesalan tokoh utama karena agak terlambat memahami ayahnya.

📝 Konflik dibuku ini juga dibangun dengan agak terburu-buru di akhir, kalau dari tengah alur konflik ini dibangun, mungkin aku bisa cukup memahami 'perang dingin' yg terjadi antara anak & ayahnya ini. Tapi karena terkesan buru-buru, aku jadi merasa 'yg penting ada moment benturan' yg bikin tokoh utama & ayah gak saling bicara.


⭐⭐⭐ 3/5
Cukup ok untuk dibaca. Ringan, gak terlalu tebal dan bikin hati hangat 🤗 tersedia di Gramedia Digital, Dan Oiyaaa ilustrasinya jempol sekali. Bagus!

0 comment

leave yout comment here :)