Dibawah Temaram Lampu Malam Itu



Aku tak pernah pandai merangkai kata.
Sekali waktu aku mencoba menulis sajak tentang cinta, puisi tentang gundah gulana atau prosa tentang seekor kucing yang dulu kubenci setengah mati namun kemudian tak ingin kulepas pergi, semuanya terasa tak bernyawa.

Hingga akhirnya aku lebih sering menuliskan apa yang kulihat, apa yang kurasakan dengan kalimat seadanya, asal mereka tahu, asal mereka paham, asal kamu mengerti.

Malam itu, dibawah lampu-lampu indah yang selalu kau suka,
ditepi pantai ditemani lagu-lagu favorit kita,
ditemani kerlip bintang-bintang yang tak pernah bosan kupandang,
seharusnya aku sedikit bisa berkata-kata, bukan ?

Tapi aku tetap aku yang malu ketika bicara tentang perasaan dibawah tatapan mata seseorang.
Aku tetap aku yang hanya bisa mengatakan satu kata, namun percayalah itu benar adanya.

Aku pernah bermimpi, tentang suasana hangat malam itu.
Dalam mimpi tersebut aku sendiri, berada di barisan paling depan.
Seolah menantang sang vokalis, "Ajak aku bernyanyi, aku takkan lelah"
Namun malam itu, aku tak sendiri. Aneh rasanya,
namun manis dan takkan terlupa.

Aku ingin berterima kasih pada semesta,
yang telah mengajarkanku satu hal malam itu.
Untuk mencintai dan dicintai. 



-Catatan Malam Hari, yang terlewatkan dari tanah Banggai.
Luwuk, 23 Oktober 2017
 

0 comment

leave yout comment here :)