Hiburan di Desa

Enam bulan lalu, ketika tahu akan ditempatkan di desa tanpa sinyal dan listrik, saya sibuk bertanya-tanya dalam hati. Kira-kira hiburan apa yang akan kudapatkan di desa, apa yang harus kulakukan agar aku sekalu merasa senang di desa. 

Jawaban itu kutemukan setelah tinggal langsung bersama mereka.

"Anak-anak"

Anak-anakku, adalah anak-anak yang selalu sibuk ingin bermain denganku setiap waktu (hal yang sulit kuberikan karena sering bolak-balik ke kabupaten dan kecamatan mengurus forum keberlanjutan Kabupaten Banggai). Tiap aku datang ke Sekolah, anak-anak sibuk menyerbu memintaku masuk mengajar di kelas mereka. Aku sering kali masuk ketika memang tak ada guru di kelas mereka, ada kalanya ketika belum ada satu gurupun hadir, aku minta mereka berkumpul di satu kelas hanya untuk senam, menari atau mendongeng. 

Mereka tak pernah komplain, tak pernah sibuk bertanya walaupun waktuku bersama mereka semakin lama semakin berkurang.

Sekali waktu, datang kabar duka dari Cimahi, eyangku meninggal dunia. Fatima, salah seorang muridku menuliskan sebuah surat ketika aku datang ke sekolah keesokan harinya. Ketika kubaca surat tersebut, aku tersentuh sekali, di desa ini baru aku merasakan bagimana menjadi seorang gur yang gerak gerik sikap dan perkataanku begitu diperhatikan.


Kiddooss, terimakasih telah menemani hari-hari ibu enam bulan kebelakang, mari bermain lebih sering, belajar lebih banyak di enam bulan kedepan :)




0 comment

leave yout comment here :)